Mataram (Kilasntb.com) — Di tengah upaya mempercepat penurunan angka stunting, Kota Mataram mulai mengandalkan pendekatan layanan kesehatan yang lebih presisi dan terintegrasi. Salah satu motor penggeraknya adalah Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RSUD H. Moh Ruslan Mataram, yang sejak beroperasi pada awal 2024 berkembang menjadi pusat rujukan penting bagi orang tua yang membutuhkan pemantauan perkembangan anak secara menyeluruh.
Direktur Utama RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc., menyebut tingginya minat masyarakat terhadap poliklinik ini sebagai sinyal bahwa kesadaran publik mulai bergeser. Orang tua kini lebih cepat mencari bantuan ketika menemukan tanda-tanda gangguan tumbuh kembang, termasuk risiko stunting.
“Poliklinik ini kami hadirkan sebagai langkah mempercepat penurunan angka stunting di Kota Mataram,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).
Hasilnya mulai terlihat. Data per September 2025 menunjukkan angka stunting turun menjadi 6,03 persen, dari 6,7 persen pada Mei 2025. Meski penurunannya tipis, tren ini dianggap positif karena mencerminkan efek intervensi yang semakin tajam, terutama pada kelompok balita yang sebelumnya rentan luput dari pengawasan.
Ia menjelaskan, salah satu kekuatan poliklinik berada pada model layanannya, kolaboratif dan lintas-spesialis. Dokter tumbuh kembang bekerja berdampingan dengan dokter anak, ahli gizi, terapis wicara, hingga psikolog. Anak yang datang tidak hanya diukur berat badan dan tinggi badannya, tetapi juga dipetakan perkembangan kognitif, perilaku, kemampuan bicara, hingga kondisi gizi secara terperinci.
“Kehadiran poliklinik ini mempercepat deteksi dan penanganan sejak dini bagi anak-anak yang mengalami hambatan pertumbuhan,” katanya.
Pendekatan seperti ini memberi ruang intervensi lebih dini, yang menjadi kunci dalam penanganan stunting. Anak yang terdeteksi mengalami hambatan bisa langsung diarahkan pada terapi lanjut, pemenuhan gizi, atau pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada faktor lain yang terlewat.
“Tujuan kami sederhana, yakni memastikan setiap anak mendapatkan penanganan fisik, mental, dan sosial secara komprehensif,” ujar dr. Eka.
Dengan target pemerintah kota menekan angka stunting hingga lima persen pada 2025, keberadaan fasilitas layanan yang lebih presisi seperti Poliklinik Tumbuh Kembang mulai terlihat sebagai pilar penting. Tantangannya kini adalah memperluas jangkauan layanan dan memastikan akses masyarakat tidak terhambat oleh jarak maupun informasi.
"Jika tren penurunan ini konsisten, Mataram berpeluang menjadi salah satu daerah yang berhasil mempercepat penanganan stunting lewat pendekatan klinis yang lebih modern, terintegrasi, dan berorientasi pada pencegahan dini," tandasnya. (Fd)
