![]() |
| (Ilustrasi Dok. Kilas NTB) |
Mataram (Kilasntb.com) — Kota Mataram, tampak lebih religius dari biasanya. Spanduk ucapan selamat menunaikan ibadah puasa terpasang di beberapa ruas jalan, pengeras suara masjid bersahut-sahutan menjelang magrib. Tapi di balik layar ponsel, ada grafik lain yang ikut turun, omzet pria panggilan.
Lucky, bukan nama sebenarnya, ia merasakan betul dampaknya. Jika bulan biasa ia bisa melayani tujuh hingga delapan pelanggan, selama puasa angka itu menyusut drastis. “Selama puasa baru tiga orang saja, Kak. Yang penting gak kosong sama sekali,” ujarnya setengah pasrah.
Tarifnya tetap Rp500 ribu untuk tiga jam. “Disamakan saja, gak dibedakan,” katanya. Ramadan tak membuatnya diskon, juga tak membuatnya menaikkan harga atas nama ‘musim sulit’. Ia membiarkan pasar dan nurani berjalan sendiri-sendiri.
Pelanggan ia peroleh dari aplikasi kencan seperti Tinder, sesekali lewat teman. Di era serba digital, moralitas dan algoritma kadang hanya berjarak satu notifikasi. Siang hari orang berbagi kutipan religi, malam hari berbagi lokasi.
Lucky mengatakan, latar belakang pelanggannya beragam. Ada aparatur sipil negara (ASN), namun jumlahnya tak banyak. “Kalau yang ASN gak terlalu banyak, Kak. Ada yang umur 45-an gitu,” ujarnya.
Mayoritas, kata dia, adalah pegawai swasta dan perempuan yang sudah mapan secara ekonomi. Sejauh ini, ia mengaku belum pernah melayani tokoh publik atau pejabat.
Ia mengaku punya aturan. Nomor satu yaitu privasi. Identitas pelanggan, cerita di balik pintu tertutup, tak boleh bocor. “Itu paling utama,” katanya.
Selain itu, ia juga rutin memeriksakan kesehatan sebulan sekali. Sebuah disiplin yang ironisnya lebih terjadwal ketimbang sebagian komitmen emosional kliennya.
Ia selektif memilih perempuan usia 35 hingga 50 tahun, kebanyakan yang ia sebut sebagai wanita rumahan atau pekerja kantoran. Dalam satu pengalaman, ia melayani perempuan berusia 40-an yang tampil dominan dan sudah menyampaikan preferensinya sejak awal. “Saya sesuai request saja, karena dia sudah menyampaikan sebelumnya,” ujarnya lugas.
Di dunia ini, peran bisa dipertukarkan, kuasa bisa dinegosiasikan, selama harga disepakati.
Ramadan, rupanya, bukan hanya bulan pengendalian diri, tapi juga bulan penurunan transaksi. Hasrat mungkin ditahan, tapi tidak sepenuhnya hilang. Ia hanya berganti jadwal.
Kisah Lucky adalah serpihan kecil dari wajah kota yang gemar menampilkan kesalehan di ruang publik, namun tetap menyimpan kerumitan di ruang privat. Antara kebutuhan ekonomi dan standar moral, ada jarak yang sering kali diisi kompromi.
Pada akhirnya, bukan hanya omzet yang menurun. Barangkali juga kejujuran kita dalam mengakui bahwa manusia, bagaimanapun religius musimnya, tetap saja menjadi makhluk dengan kebutuhan, pilihan, dan ironi yang tak selalu bisa disederhanakan. (Fd)
