Emas Melonjak Tajam di Tengah Gejolak Global

(Dok. Istimewa)

Kilas NTB,
Harga emas dunia kembali menguat tajam pada awal pekan ini. Logam mulia tersebut menjadi buruan investor setelah ketegangan geopolitik global meningkat, terutama menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Pada perdagangan terbaru, harga emas (XAU/USD) melonjak lebih dari 2,6 persen dan diperdagangkan di kisaran US$ 4.440 per troy ounce. Sebelumnya, emas sempat tertekan hingga mendekati level US$ 4.345. Lonjakan ini mencerminkan pergeseran sikap pelaku pasar yang kembali mencari aset aman di tengah risiko global yang membesar.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai penguatan emas saat ini ditopang oleh kombinasi faktor teknikal dan fundamental. Dari sisi teknikal, pola candlestick dan arah indikator moving average menunjukkan tren naik yang semakin kuat. 

“Tekanan beli masih mendominasi pasar dan membuka peluang kenaikan lanjutan dalam jangka pendek,” ujar Andy dalam analisisnya.

Menurut proyeksi Dupoin Futures, jika momentum bullish tetap terjaga, harga emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju area US$ 4.520. Namun, risiko koreksi tetap membayangi. Apabila momentum melemah, harga emas berpotensi terkoreksi ke kisaran US$ 4.397.

Ketegangan geopolitik kembali menjadi katalis utama pergerakan emas. Situasi di Amerika Latin memanas setelah Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dilaporkan ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat. Maduro membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan menyatakan akan menempuh jalur hukum internasional. 

Pernyataan pemerintah Presiden Donald Trump yang menyebut AS akan mengambil peran dalam pengelolaan sementara Venezuela semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap konflik yang lebih luas.

Selain faktor geopolitik, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve turut menopang harga emas. Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan sebagian pejabat The Fed masih membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan, seiring tren inflasi yang melambat. Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas karena menekan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls Desember. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan harga emas dalam jangka pendek. Namun, dengan sentimen safe haven yang masih dominan dan sinyal teknikal yang positif, prospek emas dinilai tetap mengarah menguat dalam waktu dekat. (Fd)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama