Stigma Kesehatan Mental Masih Jadi Tantangan, RSUD H. Moh Ruslan Mataram Dorong Warga Berani Mencari Bantuan

RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dalam memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, Sabtu, 10 Oktober (Dok. Istimewa)

Mataram, Kilas NTB  — Stigma sosial masih menjadi tantangan dalam penanganan kesehatan mental. Masyarakat perlu didorong untuk mengenali gejala gangguan psikologis dan berani mencari pertolongan profesional tanpa takut dihakimi. Persoalan ini menjadi perhatian RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dalam memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, Sabtu, 10 Oktober.

Rumah sakit milik Pemerintah Kota Mataram itu menggelar edukasi kesehatan jiwa bagi pasien yang menunggu pelayanan rawat jalan. Kegiatan berlangsung di depan Apotek Rawat Jalan dengan melibatkan dokter spesialis kedokteran jiwa dan Dharma Wanita Persatuan RSUD H. Moh. Ruslan.

Dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD H. Moh. Ruslan, dr. I Gusti Ayu Diah Kumara Dewi, Sp.KJ, menyampaikan materi tentang gangguan kecemasan atau anxiety disorder dan kesulitan tidur atau insomnia. Kedua persoalan tersebut dibahas untuk membantu masyarakat mengenali gejala, memahami faktor pemicu, serta mengetahui kapan perlu mencari bantuan medis.

“Edukasi kesehatan jiwa penting agar masyarakat semakin memahami kondisi psikologisnya, mampu mengenali gejala yang perlu diwaspadai, dan tidak ragu mencari bantuan profesional ketika mengalami masalah kesehatan mental,” kata Diah.

Isu kesehatan mental tidak cukup ditangani melalui pelayanan klinis. Pemahaman keluarga dan lingkungan sosial juga menentukan apakah seseorang merasa aman untuk mengungkapkan persoalan yang dihadapi dan mencari pertolongan.

Ketakutan terhadap stigma dapat membuat orang enggan membicarakan masalah psikologisnya. Akibatnya, gejala yang membutuhkan perhatian profesional berisiko tidak tertangani dengan baik. Karena itu, edukasi publik menjadi salah satu langkah untuk memperluas pemahaman bahwa gangguan kesehatan jiwa merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan tepat.

Diah mengatakan, masyarakat perlu membangun lingkungan yang tidak menghakimi orang dengan persoalan kesehatan mental. Setiap individu memiliki pengalaman dan tantangan berbeda sehingga membutuhkan dukungan yang sesuai.

“Setiap orang memiliki pengalaman hidup dan tantangan yang berbeda. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun lingkungan yang mau mendengarkan, memahami, dan memberikan dukungan kepada individu yang menghadapi persoalan kesehatan jiwa, bukan justru memberikan stigma,” ujarnya.

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini mengusung tema Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman orang yang menghadapi persoalan kesehatan jiwa. Tema tersebut juga menggarisbawahi perlunya ruang yang aman bagi mereka untuk menyampaikan pengalaman dan memperoleh dukungan tanpa diskriminasi.

Bagi RSUD H. Moh. Ruslan, edukasi di ruang tunggu pasien menjadi salah satu cara membawa informasi kesehatan mental lebih dekat kepada masyarakat. Upaya promotif dan preventif diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan pelayanan medis sehingga masyarakat tidak hanya datang ketika persoalan kesehatan sudah membutuhkan penanganan.

Rumah sakit itu juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial. Mendengarkan tanpa menghakimi, memahami perubahan perilaku, serta mendorong seseorang mencari bantuan profesional merupakan langkah awal untuk membantu mereka menghadapi persoalan psikologis.

Melalui kegiatan tersebut, RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram mendorong masyarakat menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh. Pesan yang ingin ditegaskan ialah persoalan kesehatan jiwa tidak semestinya menjadi alasan untuk mendiskriminasi seseorang, melainkan menjadi perhatian bersama agar setiap orang memperoleh dukungan dan pelayanan yang dibutuhkan. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama