![]() |
| (Dok. Ilustrasi) |
Kilas NTB, Pernahkah kita berbincang dengan seseorang lalu ia menunjuk sesuatu menggunakan kaki, entah dengan mengangkat ujung sepatu atau menggerakkan telapak ke arah tertentu?.
Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap sepele dan tidak bermasalah. Namun bagi mereka yang memahami adab dan nilai kesopanan, kebiasaan ini kerap dipandang sebagai tindakan yang tidak pantas.
Dalam banyak budaya, termasuk budaya Indonesia, kaki memiliki makna simbolik yang kuat. Kaki sering diasosiasikan sebagai anggota tubuh yang paling rendah, yang bersentuhan langsung dengan tanah, debu, dan kotoran. Karena itu, menggunakan kaki untuk menunjuk sesuatu, terlebih kepada orang lain, dianggap merendahkan, seolah menempatkan objek atau orang yang ditunjuk pada posisi yang tidak dihormati.
Berbeda halnya dengan tangan. Tangan sejak lama dipahami sebagai alat komunikasi yang lebih pantas dan beradab. Menunjuk dengan tangan, apalagi dengan sikap yang sopan, mencerminkan penghormatan dan kesadaran etika dalam berinteraksi.
Kebiasaan menunjuk dengan kaki sering kali muncul tanpa disadari. Bisa jadi karena rasa malas bergerak, posisi duduk yang terlalu santai, atau lingkungan pergaulan yang permisif terhadap gestur tersebut. Namun ketidaksadaran ini tidak serta-merta menghilangkan dampak sosialnya. Bagi orang yang merasa tersinggung, gestur kecil ini bisa meninggalkan kesan kurang ajar, tidak menghargai, atau meremehkan.
Adab pada dasarnya bukan soal besar atau kecilnya tindakan, melainkan soal kepekaan. Orang yang beradab akan berusaha menjaga sikap, ucapan, dan gerak tubuhnya agar tidak melukai perasaan orang lain. Ia paham bahwa rasa hormat sering kali tercermin justru dari hal-hal yang tampak sepele.
Di ruang publik, di tempat kerja, maupun dalam pergaulan sehari-hari, kesadaran akan bahasa tubuh menjadi penting. Menjaga adab bukan berarti bersikap kaku, tetapi menunjukkan bahwa kita menghargai orang lain sebagai sesama manusia. Menghindari kebiasaan menunjuk dengan kaki adalah salah satu bentuk kecil dari upaya tersebut.
Pada akhirnya, adab adalah cermin dari kepribadian. Cara kita duduk, berbicara, dan menunjuk sesuatu menyampaikan pesan yang lebih jujur daripada kata-kata. Karena itu, belajar peka terhadap gestur, termasuk tidak menunjuk dengan kaki adalah bagian dari upaya merawat nilai kesopanan yang semakin hari semakin langka. (Fd)
