![]() |
| Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Raba (Dok. Kilas NTB) |
Kilas NTB, Dari sebuah kecamatan pesisir bernama Sape, Kabupaten Bima, perjalanan hidup Tajudinur dimulai. Ia lahir pada 28 Oktober 1983 dari keluarga sederhana, pasangan H. Mansur HM Dili dan Hj. St. Asmah. Sebagai anak kelima dari enam bersaudara, Tajudinur tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya arti kerja keras, religius, dan ketekunan sejak dini.
Sape bukan hanya tempat kelahiran, tetapi juga ruang pertama tempat ia belajar tentang kehidupan. Masa kecil dan pendidikan dasar Tajudinur dijalani sepenuhnya di kampung halaman. Ia sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Desa Sangiang. Namun keterbatasan akses dan jauhnya jarak sekolah yang harus ditempuh dengan berjalan kaki setiap hari berdampak pada kesehatannya. Kondisi itu memaksanya pindah sekolah.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN No. 1 Sape dan SDN Rato, Kecamatan Sape, yang kini menjadi Kecamatan Lambu. Pendidikan menengah ditempuh di SLTPN 1 Sape dan SMAN 1 Sape, hingga lulus pada 2002.
Seperti banyak anak daerah lainnya, selepas SMA Tajudinur dihadapkan pada pilihan sulit, bertahan di kampung halaman atau merantau dengan segala ketidakpastian. Ia memilih Jakarta. Tanpa jaminan masa depan, ia berangkat dengan bekal keberanian dan keyakinan.
Ibu kota menjadi sekolah kehidupan yang keras. Tajudinur mencoba masuk berbagai sekolah kedinasan, mulai dari Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Akademi Imigrasi (AIM), hingga Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). Semua upaya itu pada awalnya berujung kegagalan. Bahkan saat pertama kali mengikuti seleksi AKIP pada 2002, ia belum berhasil.
Tidak menyerah, Tajudinur kembali mendaftar pada 2003. Ia mempersiapkan diri secara fisik dan mental dengan berlatih bela diri Tarung Derajat di Satuan Latihan Bekasi, Tambun.
Masa menunggu pengumuman kelulusan seleksi menjadi fase paling berat. Untuk bertahan hidup, dengan uang Rp 50.000 di saku, ia melamar pekerjaan ke berbagai pabrik dan industri tekstil, elektronik, dan makanan demi bertahan hidup. Tak satu pun lamaran diterima. Hari-hari itu mengajarkan satu hal penting, menyerah bukan pilihan bagi mereka yang ingin bertahan.
Penantian itu akhirnya berbuah. Tajudinur dinyatakan lulus seleksi masuk AKIP dan akhirnya resmi menjadi Taruna AKIP angkatan ke-39 pada 2006. Dari titik itulah jalan pengabdian panjangnya di dunia pemasyarakatan dimulai. Ia ditempa oleh disiplin, integritas, dan kesadaran bahwa, pemasyarakatan bukan semata soal tembok dan pengamanan, melainkan tentang manusia dan kemungkinan perubahan.
Setelah lulus dengan gelar A.Md.IP., Tajudinur memulai penempatan pertama pada 2007 di Lapas Kelas IIA Mataram, yang kini menjadi Lapas Perempuan Mataram. Di sana, ia belajar langsung tentang dinamika pembinaan narapidana dan tantangan menjaga ketertiban di balik tembok lembaga pemasyarakatan.
Di tengah pengabdian, Tajudinur terus mengembangkan kapasitas akademiknya. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram pada 2009. Bekal keilmuan hukum tersebut memperkaya pandangannya, terutama dalam memahami hak asasi manusia dan sistem pembinaan warga binaan.
Pengalaman tugasnya semakin beragam ketika pada Agustus 2010 hingga Mei 2011 ia menjalani detasering (BKO) di Jayapura, Papua. Penugasan ini menuntut ketahanan fisik sekaligus kepekaan sosial di wilayah dengan tantangan yang berbeda.
Karier strukturalnya dimulai pada 2011 sebagai Kepala Subseksi di Lapas Kelas IIB Dompu hingga 2014. Ia kemudian bertugas di Lapas Terbuka Mataram (2014–2016), sebelum kembali ke Dompu sebagai Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) pada 2016–2018. Di posisi ini, ia bertanggung jawab menjaga stabilitas keamanan tanpa mengesampingkan prinsip kemanusiaan.
Pada 2018, Tajudinur dipercaya menjabat Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban di Lapas Kelas IIA Mataram. Selanjutnya, pada 2022, ia mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik di Lapas Kelas IIA Lombok Barat, mendalami peran pembinaan dan reintegrasi sosial.
Puncak perjalanan kariernya datang pada 2025. Pada Februari, Tajudinur ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kepala Rutan Kelas IIB Raba. Tiga bulan kemudian, Mei 2025, ia resmi dilantik sebagai Kepala Rutan Kelas IIB Raba secara definitif.
Bagi Tajudinur, kembali bertugas di tanah Bima bukan sekadar rotasi jabatan. Itu adalah panggilan untuk pulang dan mengabdi.
Kisah hidup Tajudinur menjadi potret tentang kegagalan yang tak mematahkan langkah dan kesederhanaan yang membentuk ketangguhan. Dari Sape, ia belajar bermimpi. Dari Jakarta, ia belajar bertahan. Dari dunia pemasyarakatan, ia belajar bahwa jabatan hanyalah sarana, sementara pengabdian adalah tujuan. Sebuah perjalanan sunyi tentang putra daerah yang membuktikan bahwa ketekunan, pada akhirnya, selalu menemukan jalannya sendiri. (Fd)
