Akreditasi di Depan Mata, RSUD H. Moh. Ruslan Perketat Standar Keselamatan

Apel pagi Direksi dan jajaran RSUD H. Moh Ruslan Mataram yang dirangkai dengan simulasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Bantuan Hidup Dasar (BHD), dan Red Code di depan Lobby Graha Mentaram (Dok. Istimewa)

Mataram, Kilas NTB — Akreditasi rumah sakit tak cukup dijawab dengan tumpukan dokumen dan kesiapan administratif. RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram memperketat standar keselamatan pasien dengan menguji kesiapan petugas menghadapi infeksi, henti jantung, hingga kondisi darurat di lingkungan rumah sakit.

Penguatan itu dilakukan menjelang pelaksanaan akreditasi melalui apel pagi yang dirangkai dengan simulasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Bantuan Hidup Dasar (BHD), dan Red Code di depan Lobby Graha Mentaram, Kamis, 10 September 2026. Simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan prosedur keselamatan benar-benar dipahami dan dapat dijalankan ketika dibutuhkan.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. H. Tris Cahyoso, M.A.R.S., mengatakan akreditasi harus menjadi tanggung jawab seluruh unsur rumah sakit. Menurut dia, keberhasilan menghadapi proses tersebut tidak bisa dibebankan kepada satu unit atau bagian tertentu.

“Akreditasi membutuhkan komitmen bersama, bukan hanya dari satu bagian atau unit kerja,” kata Tris.

Ia menekankan bahwa standar pelayanan tidak boleh hanya dipenuhi ketika rumah sakit menghadapi penilaian. Standar tersebut harus menjadi bagian dari kebiasaan kerja setiap petugas, terutama yang berkaitan dengan mutu layanan dan keselamatan pasien.

“Kesiapan akreditasi harus diwujudkan melalui konsistensi dalam menjalankan standar pelayanan, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Karena itu, RSUD H. Moh. Ruslan menguji kesiapan petugas melalui simulasi PPI, BHD, dan Red Code. Ketiganya berkaitan langsung dengan kemampuan rumah sakit mencegah risiko infeksi, memberikan pertolongan dasar pada kondisi kritis, serta merespons keadaan darurat secara cepat dan terukur.

Simulasi menjadi penting karena keselamatan pasien tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas. Respons petugas dalam hitungan menit, ketepatan mengambil tindakan, dan kepatuhan terhadap prosedur dapat menentukan keselamatan pasien ketika situasi darurat terjadi.

Tris meminta seluruh pegawai menjaga disiplin dan kekompakan selama proses persiapan hingga pelaksanaan akreditasi. Ia menilai konsistensi seluruh jajaran menjadi kunci agar standar pelayanan tidak berhenti sebagai aturan tertulis.

“Yang harus dijaga adalah kekompakan, kedisiplinan, dan fokus seluruh pegawai,” kata Tris.

Menurut dia, penguatan budaya mutu harus berjalan beriringan dengan keselamatan pasien. Setiap petugas memiliki peran dalam memastikan pelayanan berlangsung aman, profesional, dan sesuai standar.

“Semangat kebersamaan menjadi salah satu fondasi dalam menjaga mutu pelayanan serta meningkatkan keselamatan pasien,” ujarnya.

RSUD H. Moh. Ruslan kini memanfaatkan momentum akreditasi untuk menguji kesiapan pelayanan dari sisi praktik. Rumah sakit tidak hanya dituntut siap menghadapi penilaian, tetapi juga memastikan standar keselamatan tetap berjalan dalam pelayanan sehari-hari.

Komitmen itu dirangkum dalam semangat “Satu Komitmen, Satu Langkah, Satu Tujuan”. Bagi RSUD H. Moh. Ruslan, akreditasi menjadi momentum untuk memperkuat rumah sakit yang bermutu, aman, profesional, dan menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas. (Ain)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama