Gangster Teror Udayana Berulang, Pedagang Keluhkan Polisi Tak Konsisten Berpatroli

Kelompok gangster muda yang menjadi Pelaku pembacokan Muhammad Gibran di Jalan Udayana, Kota Mataram, tengah digeret pihak kepolisian, Rabu (28/10/2026) (Dok. Istimewa)

Mataram, KilasNTB – Serangan kelompok gangster bersenjata tajam di kawasan Jalan Udayana, Kota Mataram, ternyata bukan kejadian pertama. Sebelum Muhammad Gibran Anugrah Aditnya (14) tewas dibacok pada Selasa, 27 Oktober 2026, aksi serupa disebut sudah berulang kali terjadi. 

Namun, keluhan warga dan pelaku usaha mengenai ancaman keamanan di kawasan itu dinilai belum mendapat respons pencegahan yang konsisten dari kepolisian.

Dampaknya mulai dirasakan para pelaku usaha. Kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat tersebut perlahan kehilangan pelanggan. Rasa takut terhadap kemungkinan serangan susulan membuat pengunjung dan karyawan sejumlah tempat usaha memilih lebih waspada, bahkan mengurangi aktivitas.

Seorang pedagang yang akrab disapa Mama Zeta mengatakan, aksi penyerangan kelompok pemuda bersenjata tajam sudah beberapa kali terjadi di kawasan Udayana. Namun, insiden yang menimpa Gibran menjadi peristiwa paling tragis karena merenggut nyawa seorang remaja.

"Baru kejadian pemuda (Muhammad Gibran, red) yang diserang sampai orangnya meninggal dunia," kata Mama Zeta, Rabu, 28 Oktober 2026.

Pedagang yang telah 16 tahun membuka lapak di dekat taman bermain anak, sebelah jalur bypass Udayana itu mengaku pernah menyaksikan seorang pemuda bersembunyi saat terjadi penyerangan. Pemuda tersebut mengenakan pakaian yang tampak bersimbah darah dan mengaku sedang menghindari kejaran kelompok gangster.

"Seingat saya, kejadian bada salat subuh. Waktu itu masih sepi. Pemuda itu terlihat bersembunyi, ngakunya untuk menghindari kejaran gangster," ujarnya.

Mama Zeta mengatakan, situasi keamanan yang berubah membuat aktivitas perdagangan ikut terdampak. Sebelum aksi kelompok bermotor dan penyerangan marak, kawasan tersebut relatif ramai. Kini, sebagian pelanggan mulai menjauh karena khawatir menjadi korban atau terjebak dalam aksi kekerasan.

Ia juga mempertanyakan pola patroli kepolisian yang dinilai lebih intens setelah terjadi penyerangan. Menurut dia, kehadiran aparat tidak berlangsung konsisten sehingga potensi kejadian serupa tetap menghantui pedagang.

"Patroli polisi hanya pascakejadian saja sigap. Setelah beberapa hari longgar lagi. Nah, setelah kejadian baru intens lagi," sindirnya.

Keluhan serupa disampaikan Akhyar, petugas keamanan di kawasan Udayana. Ia menyebut, sepanjang tahun ini sudah beberapa kali terjadi penyerangan oleh kelompok pemuda yang membawa senjata tajam.

Salah satu kejadian berlangsung sebelum Ramadan. Lokasinya di samping lapangan futsal. Saat itu, beredar kabar adanya korban luka akibat pembacokan. Setelah situasi mereda, aksi serupa kembali terjadi di sejumlah titik usaha lainnya.

Menurut Akhyar, kelompok pemuda tersebut datang membawa senjata tajam, termasuk celurit, dan membuat keributan tanpa alasan yang diketahui warga. Beberapa aksi bahkan berhasil dihalau warga dan pekerja di sekitar lokasi.

Namun, ancaman itu meninggalkan ketakutan. Karyawan perempuan dan pelanggan di sejumlah tempat usaha disebut sempat merasa diteror karena khawatir kelompok tersebut kembali datang.

"Saat kejadian sampai pascakejadian, para karyawan cewek dan pelanggan di beberapa tempat usaha ketakutan karena merasa diteror kelompok gangster," katanya.

Akhyar mengatakan, aksi penyerangan juga terjadi di jalan utama dan sekitar taman bermain Jalan Udayana. Rentetan kejadian tersebut membuat warga dan pemilik usaha pernah meminta kepolisian meningkatkan pengamanan, terutama pada jam-jam rawan.

Namun, permintaan itu disebut tidak ditindaklanjuti secara berkelanjutan. Akhyar mengaku aparat hanya sekali datang setelah warga meminta bantuan. Setelah itu, penjagaan yang diharapkan warga tidak terlihat lagi.

"Hanya sekali dia datang. Setelah itu tidak ada lagi. Mau ke mana lagi tempat kita untuk mengadu? Aparat terkesan abai terhadap keluhan kita," ujarnya.

Ia mempertanyakan apakah aparat baru akan bergerak setelah kembali jatuh korban. "Apakah menunggu nyawa melayang lagi baru semua bergerak?" kata Akhyar.

Bagi para pelaku usaha, kematian Gibran menjadi peringatan bahwa persoalan keamanan di Udayana tidak bisa lagi dipandang sebagai keributan antarkelompok pemuda semata. Ancaman senjata tajam yang berulang telah merambah ruang publik dan memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat.

Akhyar mengingatkan, tanpa langkah pencegahan yang konsisten dari kepolisian dan Pemerintah Kota Mataram, kawasan Udayana berisiko semakin ditinggalkan pengunjung.

"Jika ini tetap dibiarkan tanpa ketegasan pihak kepolisian dan pemerintah kota untuk melakukan pencegahan, akan berdampak serius terhadap pelaku usaha. Udayana kian sepi, apalagi setelah kejadian pembacokan Gibran," tandasnya. (Tim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama