![]() |
| (Dok. Istimewa) |
Mataram, KilasNTB – Di tengah kondisi korban pembacokan yang kritis, RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram memastikan biaya perawatan pasien ditanggung sepenuhnya. Langkah ini menjadi bentuk kepedulian kemanusiaan rumah sakit terhadap korban kekerasan yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Korban merupakan satu dari tiga kejadian yang dilaporkan terkait aksi pembacokan yang diduga melibatkan geng motor di Kota Mataram, Minggu (25/10) dini hari. Korban mengalami luka tebas cukup luas di bagian kepala hingga mengalami penurunan kesadaran secara drastis.
Direktur RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK. Eka Nurhayati, menjelaskan kondisi korban sudah kritis ketika tiba di instalasi gawat darurat (IGD). Penurunan kesadaran berlangsung sangat cepat, bahkan kurang dari 30 menit.
“Lukanya luas di kepala. Sampai di IGD, kesadarannya sudah menurun. Cepat sekali penurunan kesadarannya, tidak sampai 30 menit,” ungkap dr. Eka, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, kondisi korban memburuk sebelum tim medis sempat melakukan tindakan lebih lanjut. Pemeriksaan menunjukkan pupil mata mengalami midriasis maksimal atau pelebaran secara maksimal, yang dalam konteks cedera kepala berat dapat menjadi tanda gangguan neurologis serius.
“Belum sempat kita melakukan tindakan apa-apa, pupilnya sudah midriasis,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa beratnya cedera yang dialami korban. Meski demikian, penilaian mengenai kematian batang otak tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan pelebaran pupil. Diagnosis tersebut memerlukan pemeriksaan dan kriteria medis khusus.
Biaya Perawatan Digratiskan
Di tengah kondisi pasien yang mengkhawatirkan, RSUD H. Moh Ruslan memastikan persoalan biaya tidak menjadi beban tambahan bagi keluarga korban.
Rumah sakit menggratiskan seluruh biaya perawatan atas instruksi langsung Wali Kota Mataram. Kebijakan ini menegaskan bahwa penanganan korban dalam situasi darurat tidak semata-mata berorientasi pada aspek medis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Pihak rumah sakit juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Mataram untuk mendukung penanganan lebih lanjut.
Langkah tersebut menjadi bentuk kehadiran pemerintah daerah ketika warga menghadapi situasi darurat, terlebih bagi keluarga yang harus berhadapan dengan kondisi medis kritis secara mendadak.
Bagi keluarga korban, situasi seperti ini bukan hanya menyangkut biaya pengobatan. Mereka juga harus menghadapi ketidakpastian kondisi orang terdekat yang mengalami luka berat akibat kekerasan.
Karena itu, jaminan pembiayaan dari pemerintah daerah diharapkan dapat membantu keluarga berkonsentrasi pada pendampingan pasien tanpa terbebani persoalan biaya perawatan.
Cedera Kepala Berat, Penanganan Darurat Jadi Penentu
Luka tebas yang luas pada kepala merupakan cedera serius karena berisiko menyebabkan perdarahan, kerusakan jaringan otak, hingga gangguan fungsi vital. Penurunan kesadaran yang berlangsung cepat menjadi salah satu tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera.
Dalam kasus ini, kondisi pupil yang mengalami pelebaran maksimal memperlihatkan beratnya gangguan yang ditemukan saat pasien berada di IGD. Namun, kondisi akhir pasien perlu dipastikan berdasarkan keterangan medis resmi.
RSUD H. Moh Ruslan Mataram menjadi salah satu titik penanganan korban dalam rangkaian kejadian kekerasan tersebut. Peristiwa ini sekaligus menyoroti konsekuensi serius aksi pembacokan, yang dampaknya tidak berhenti pada korban, tetapi juga meluas kepada keluarga dan masyarakat.
Di tengah situasi itu, keputusan menggratiskan biaya perawatan menjadi sisi kemanusiaan yang menonjol. Rumah sakit dan pemerintah daerah hadir untuk memberikan dukungan ketika korban membutuhkan pertolongan.
Penanganan medis tetap menjadi prioritas. Namun, bagi korban dan keluarganya, kepastian bahwa biaya perawatan ditanggung juga menjadi bentuk dukungan penting di tengah kondisi yang sulit. (Fd)
