Mataram (Kilasntb.com) – Tingginya kasus stunting di Kota Mataram akibat rendahnya literasi dan edukasi gizi kepada masyarakat, serta sistem rujukan dan sistem pelayanan dasar yang belum optimal. Hal ini mendorong RSUD Kota Mataram mengambil langkah guna menekan kasus Stunting di Kota Mataram.
Direktur RSUD Kota Mataram, dr. Hj. Eka Nurhayati, Sp.OG., M.Kes., M.Hum melalui salah satu dokter umum RSUD Kota Mataram, dr. Muhammad Fadillah mengatakan kini RSUD Kota Mataram sudah meluncurkan “MAHARESTU” sebagai program terbaru untuk mencegah permasalahan stunting di Nusa Tenggara Barat khususnya Kota Mataram, pada Selasa (06/06/23).
"Maharestu merupakan kepanjangan dari Mataram Harum Rendah Stunting," katanya.
Fadillah menjelaskan, saat ini stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan secara global. Berdasarkan data yang diperoleh dari LKPD Kota Mataram tahun 2022, bahwa yang menjadi penyebab tingginya kasus stunting di Kota Mataram adalah karena rendahnya literasi dan edukasi gizi kepada masyarakat, serta sistem rujukan dan sistem pelayanan dasar yang belum optimal.
“Pada tahun 2024, target nasional penurunan stunting harus turun di bawah 14%, oleh karenanya hal ini menjadi perhatian penting bagi kita bersama,” terangnya.
Dikatakannya, program Maharestu cakupi dua hal utama yakni program Digital penyuluhan stunting anytime anywhere. Kedua program rujukan stunting terpadu satu pintu dengan pelayanan gizi terintegrasi.
"Digital penyuluhan stunting adalah proses edukasi pasien dengan memanfaatkan teknologi QR code, sehingga pasien dapat dengan mudah mengakses video edukasi pada akun YouTube milik RSUD Kota Mataram. Video edukasi tersebut berisikan informasi terkait apa itu stunting, bagaimana dampak stunting dan pencegahannya serta informasi lainnya yang berkaitan dengan stunting," jelasnya.
“Tidak hanya sekadar melihat video permasalahan stunting, karena setelahnya pasien juga diminta untuk mengisi kuesioner Teman Stunting atau test mandiri pengetahuan stunting, yang dimana pasien diharapkan dapat mengerti dan memahami isi video tersebut,” tegasnya.
Saat ini, sistem rujukan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
- Apabila stunting disertai dengan tanda kegawatdaruratan seperti anoreksia atau tidak bisa makan dan minum, terdapat kejang atau penurunan kesadaran, terdapat sesak atau kesulitan bernapas, dehidrasi berat atau demam tinggi, maka rujukan dapat dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi Emergency Button yang tersambung dengan EMC SC 119.
- Akan tetapi jika stunting tidak disertai dengan kegawatdaruratan, maka rujukan dapat dilakukan melalui Poli Klinik Gizi Dan Stunting RSUD Kota Mataram. Setelah itu, pasien dapat melakukan registrasi melalui aplikasi Reservasi.
"Dengan adanya penyuluhan digital terhadap lebih dari 200 pasien yang dirawat di RSUD Kota Mataram pada tahun 2022, telah mengalami peningkatan pemahaman terkait informasi tentang stunting," tutupnya. (DS)
