Produksi Daging dan Telur NTB Surplus pada 2025, Pemerintah Siapkan Hilirisasi Ayam

Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dan Wakil, Indah Dhamayanti Putri (Dok. Diskominfotik NTB)

Mataram (Kilasntb.com) — Produksi daging ruminansia di Nusa Tenggara Barat sepanjang 2025 mencapai 15.366,1 ton, melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 13.687,8 ton. Surplus tercatat 1.678,32 ton atau meningkat 5,7 persen dibanding produksi 2024 yang sebesar 14.537 ton.

Data pemerintah provinsi juga menunjukkan produksi daging unggas 2025 sebesar 57.998,4 ton, lebih tinggi dari kebutuhan 55.553 ton. Surplus mencapai 1.860,27 ton dengan kenaikan produksi 3,3 persen dari 2024 yang sebesar 56.138,1 ton. Produksi telur tercatat 57.506,44 ton, naik 1,86 persen dari tahun sebelumnya sebesar 56.434,86 ton.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB, Ashanul Khaliq, mengatakan capaian tersebut menunjukkan ketersediaan protein hewani di daerah dalam kondisi mencukupi.

“Produksi daging dan telur pada 2025 berada di atas kebutuhan konsumsi masyarakat. Surplus ini menjadi indikator bahwa sektor hulu peternakan berjalan stabil dan kapasitas produksi terjaga,” ujar Khaliq di Mataram, Senin, 23 Februari 2026.

Ia merinci, populasi ayam buras pada 2025 mencapai 5.303.821 ekor atau naik 4 persen dibanding 2024 sebanyak 5.118.430 ekor. Populasi itik meningkat 4 persen menjadi 444.410 ekor. Produksi telur puyuh mencapai 227,83 ton dengan populasi 131.389 ekor, meningkat 14 persen dari tahun sebelumnya.

Pada komoditas sapi, populasi 2025 tercatat 1.340.130 ekor, naik 2,44 persen dibanding 1.308.204 ekor pada 2024. Sepanjang tahun itu tidak ditemukan kasus pemotongan betina produktif.

Di sisi kesehatan hewan, sepanjang 2025 tercatat 914 kasus Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), antara lain Anthrax, Septichaemia Epizootica, Surra, Rabies, Avian Influenza, dan PMK. Pemerintah daerah menyatakan seluruh kasus telah ditangani. NTB juga telah memiliki fasilitas PCR untuk pemeriksaan PMK sehingga pengujian dapat dilakukan di dalam daerah.

Dari aspek distribusi, indikator tata niaga subsektor peternakan pada 2025 mencapai 77,85 persen, melampaui target 75 persen. Persentase produk peternakan yang dipasarkan meningkat 9,22 persen dibanding 2024. Sepanjang tahun itu tercatat 17 pelayaran kapal ternak dari Bima menuju sejumlah pelabuhan di Jawa dan Kalimantan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kabupaten Sumbawa. Program tersebut mencakup pembibitan, produksi pakan, budidaya, rumah potong unggas, hingga pengolahan daging dan telur dalam satu kawasan.

Menurut Khaliq, hilirisasi menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat struktur industri peternakan daerah. “Integrasi dari hulu hingga hilir diarahkan untuk menjaga pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta mendorong nilai tambah produk peternakan di NTB,” katanya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama