![]() |
| Asisten II Setda NTB, Lalu Moh. Faozal bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Nusa Tenggara Barat saat memantau di salah satu pasar di Kota Mataram (Dok. Diskomknfotik NTB) |
Mataram (Kilasntb.com) — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Nusa Tenggara Barat mulai mewaspadai kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
Dari hasil pemantauan di Pasar Kebon Roek dan Pasar Mandalika, Kota Mataram, harga ayam potong dan bawang merah tercatat mengalami kenaikan cukup signifikan dalam sepekan terakhir.
Asisten II Setda NTB, Lalu Moh. Faozal, mengatakan lonjakan harga ayam potong dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari raya. Harga ayam naik sekitar Rp5.000 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya.
“Permintaan masyarakat meningkat menjelang Idul Adha. Konsumsi ayam juga cenderung lebih tinggi dibandingkan daging sapi,” kata Faozal saat meninjau pasar bersama TPID, Kamis.
Selain ayam, bawang merah juga mengalami kenaikan harga dari sebelumnya Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Menurut Faozal, kenaikan itu dipengaruhi biaya distribusi dari daerah sentra produksi di Bima menuju Pulau Lombok.
“Kenaikan bawang merah lebih karena faktor transportasi. Tapi kami optimistis harga akan turun lagi saat panen di Bima mulai berlangsung beberapa minggu ke depan,” ujarnya.
Meski terdapat tekanan harga pada sejumlah komoditas, TPID NTB memastikan stok bahan pokok utama masih dalam kondisi aman. Pemerintah daerah bersama Bulog mengecek langsung ketersediaan beras, gula, dan tepung terigu di gudang distribusi.
Faozal menepis anggapan bahwa kenaikan harga beras Bulog dipicu keterbatasan stok. Ia menyebut kenaikan lebih dipengaruhi naiknya biaya kemasan plastik.
“Ketersediaan beras, gula, dan tepung di gudang Bulog sangat cukup. Kenaikan harga beras bukan karena stok menipis, tetapi karena biaya kemasan plastik meningkat,” katanya.
Dalam sidak tersebut, TPID juga memeriksa distribusi LPG 3 kilogram di kawasan Pasar Kebon Roek. Pemerintah meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok elpiji bersubsidi disebut masih stabil.
Pemantauan pasar dilakukan bersama unsur Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, Bulog, dinas terkait, dan kepolisian. Pemerintah Provinsi NTB menegaskan akan terus mengawasi rantai distribusi pangan guna menahan laju inflasi daerah menjelang Idul Adha.
“Hari ini pemerintah hadir untuk memastikan pasokan dan harga tetap terkendali. Kami ingin masyarakat menyambut Idul Adha dengan tenang,” ujar Faozal. (Red)
