![]() |
| (Dok. Ilustrasi Kilas NTB) |
Mataram (Kilasntb.com) — Keputusan berpuasa bagi ibu hamil bukan sekadar soal kuat atau tidak menahan lapar dan dahaga. Ada aspek medis yang harus dipertimbangkan secara cermat. RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram menegaskan, keselamatan ibu dan janin tetap menjadi prioritas utama selama bulan Ramadan.
Satu-satunya Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (KFER) di Nusa Tenggara Barat, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., menjelaskan, ibu hamil yang sehat dengan kehamilan normal membutuhkan asupan nutrisi dan cairan yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin.
“Ibu hamil memerlukan lebih banyak cairan dan nutrisi. Puasa berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi jika tidak dikelola dengan baik,” ujar dr. Eka, Jumat (20/02/2026).
Ia menegaskan, secara prinsip puasa memang hanya mengubah pola makan dari siang ke malam hari. Namun, perubahan pola ini tetap harus disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing ibu hamil. Dalam sejumlah kasus, terutama pada kehamilan dengan risiko tinggi, puasa tidak dianjurkan.
Untuk memastikan keamanan tersebut, RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram menyediakan layanan komprehensif, mulai dari poli kandungan, ruang bersalin (VK), hingga pusat layanan ibu dan anak yang kini terintegrasi dalam gedung khusus pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Rumah sakit ini juga memiliki program bayi tabung yang mendukung layanan fertilitas di daerah.
Melalui konsultasi dokter spesialis obstetri dan ginekologi, ibu hamil dapat menjalani pemeriksaan kondisi fisik sebelum memutuskan berpuasa. Edukasi terkait pola makan sahur dan berbuka, kecukupan cairan, serta pembatasan aktivitas fisik berat juga menjadi bagian dari layanan yang diberikan.
“Jika ibu hamil memutuskan tetap berpuasa, pastikan asupan nutrisi saat sahur dan berbuka terpenuhi, minum cukup air pada waktu yang diperbolehkan, menghindari aktivitas berat terutama saat cuaca panas, dan rutin memantau kondisi kandungan,” kata dr. Eka.
Ia menambahkan, gejala seperti pusing berlebihan, kontraksi dini, penurunan gerak janin, atau tanda dehidrasi tidak boleh diabaikan. “Jika muncul gejala yang tidak normal, segera periksakan diri ke dokter spesialis kandungan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari edukasi publik, RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram juga aktif menyampaikan informasi kesehatan melalui media sosial resmi rumah sakit. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas akses informasi, terutama menjelang dan selama Ramadan.
Bagi rumah sakit milik pemerintah kota tersebut, puasa bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan momentum memperkuat literasi kesehatan ibu dan anak. Pesannya jelas, yakni keputusan berpuasa harus berbasis kondisi medis, bukan sekadar dorongan spiritual. Kesehatan ibu dan keselamatan janin tetap menjadi yang utama. (Fd)
