Safari Ramadan di Dompu, Wagub NTB Soroti Rumah Tak Layak Huni hingga Progres Koperasi Desa

Kunjungan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Indah Dhamayanti Putri di Desa Saneo, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu (Dok. Diakominfotik NTB)

Dompu (Kilasntb.com) — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Indah Dhamayanti Putri, memilih memulai Safari Ramadan tahun ini dengan menyentuh langsung denyut persoalan di desa. Di Desa Saneo, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, ia berdiri di depan rumah-rumah warga yang dindingnya lapuk dan atapnya nyaris roboh.

Bagi perempuan yang akrab disapa Ummi Dinda itu, Program Desa Berdaya bukan sekadar agenda seremonial. Ia meninjau sejumlah rumah tidak layak huni, berbincang dengan pemiliknya, dan memastikan intervensi pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan dasar warga.

“Program Desa Berdaya bukan sekadar bantuan, tetapi upaya mendorong kemandirian, memperkuat ekonomi warga, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya, Minggu, 1 Maret 2026.

Safari Ramadan, kata dia, tak boleh berhenti pada tausiah dan buka puasa bersama. Momentum ini harus menjadi ruang evaluasi apakah program pemerintah sudah tepat sasaran atau justru masih menyisakan celah.

Di sela kunjungan, Badan Amil Zakat Nasional NTB menyalurkan paket sembako dan santunan bagi warga lanjut usia serta penyandang disabilitas. Bantuan untuk renovasi mushalla setempat juga diberikan agar ibadah Ramadan berlangsung lebih nyaman. Di lapangan desa, rombongan menanam pohon, simbol kecil bahwa pembangunan tak melulu soal fisik, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Dari Desa Saneo, rombongan bergerak ke Desa Kandai Dua. Di sana, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP tengah dikebut. Koperasi itu digadang menjadi motor ekonomi baru desa, ruang bersama yang diharapkan mampu menggerakkan produksi dan distribusi hasil warga.

Pemerintah Provinsi NTB menekankan pentingnya sinergi lintas level pemerintahan agar program desa tak berhenti sebagai proyek jangka pendek. Di Dompu, tantangannya nyata berupa kemiskinan, infrastruktur terbatas, dan ketergantungan pada sektor primer.

Safari Ramadan kali ini memperlihatkan satu hal bahwa pembangunan yang diklaim berdaya akan diuji bukan oleh pidato, melainkan oleh perubahan nyata di rumah-rumah warga yang selama ini terpinggirkan. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama