Safari Ramadan di Lombok Timur, Danrem 162/WB: Desa Benteng Terakhir Ketahanan Bangsa

Safari Ramadan Komandan Korem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief di Lombok Timur (Dok. Istimewa) 

Lombok Timur (Kilasntb.com) — Komandan Korem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief menegaskan desa harus menjadi benteng terakhir ketahanan nasional. Pesan itu disampaikan dalam Safari Ramadan di Kodim 1615/Lombok Timur, Senin, 2 Maret 2026.

Di hadapan Bupati Lombok Timur, jajaran Forkopimda, tokoh agama, dan prajurit TNI, Sjasul Arief mengingatkan situasi global yang semakin tidak menentu. Ia menyinggung potensi krisis energi, konflik internasional, hingga gangguan rantai pasok yang berimbas pada ketahanan pangan.

Menurut dia, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada pasokan luar negeri. Ketahanan harus dibangun dari level paling dasar: desa.

“Kalau suatu saat dunia berhenti, kita tetap harus makan,” kata Sjasul Arief. “Karena itu desa, kecamatan, hingga provinsi harus memiliki cadangan pangan sendiri.”

Ia menilai kemandirian pangan menjadi kunci untuk memutus ketergantungan terhadap negara lain. Dalam skema tersebut, desa diposisikan sebagai simpul awal sistem ketahanan nasional—mulai dari produksi, distribusi, hingga cadangan pangan.

Sjasul Arief juga menyoroti peran bintara pembina desa atau Babinsa. Menurut dia, Babinsa bukan sekadar unsur pertahanan, tetapi juga penggerak pembangunan di tingkat desa. Mereka diharapkan aktif mengawal berbagai program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis atau MBG, agar berjalan tepat sasaran.

Safari Ramadan ini, kata dia, menjadi momentum memperkuat koordinasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Korem 162/Wira Bhakti, ujar Sjasul Arief, akan terus terlibat dalam upaya memperkuat ketahanan dari desa.

“Kalau sistem ketahanan itu sudah kita bangun dari desa, kita tidak perlu lagi khawatir tentang bagaimana makan besok,” ujarnya. (Fd)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama