Peluang Hamil Kembar Tetap Ada Meski Tanpa Riwayat Genetik

(Dok. Kilas NTB)

Mataram (Kilasntb.com) — Kehamilan kembar tidak semata-mata ditentukan oleh faktor keturunan. Pasangan tanpa riwayat keluarga kembar pun tetap memiliki peluang mendapatkan kehamilan ganda, meski kemungkinannya relatif lebih kecil.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Ida Bagus Yuda A., Sp.OG, menjelaskan bahwa faktor genetik memang berperan dalam meningkatkan peluang kehamilan kembar, terutama dari garis keturunan ibu.

“Jika dari pihak ibu memiliki riwayat kembar, peluang terjadinya kehamilan kembar lebih besar karena berkaitan dengan kemungkinan menghasilkan lebih dari satu sel telur dalam satu siklus ovulasi,” ujar Yuda saat memberikan penjelasan, Selasa (26/5/2026).

Ia menyebutkan, secara teori peluang kehamilan kembar pada perempuan dengan riwayat keluarga kembar dari pihak ibu sekitar satu banding 62. Sementara apabila faktor keturunan berasal dari pihak ayah, peluangnya lebih rendah, yakni sekitar satu banding 104.

Meski demikian, Yuda menegaskan bahwa kehamilan kembar tetap dapat terjadi pada pasangan tanpa riwayat genetik serupa.

“Kalau tidak ada faktor keturunan memang peluangnya lebih kecil, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kehamilan kembar tetap bisa terjadi secara alami,” katanya.

Selain faktor genetik, perkembangan teknologi reproduksi turut meningkatkan angka kehamilan kembar. Program kehamilan berbantu seperti fertilisasi in vitro (IVF) atau bayi tabung menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus kehamilan ganda dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Yuda, dalam prosedur bayi tabung dokter biasanya menempatkan lebih dari satu embrio ke dalam rahim guna meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan.

“Pada program bayi tabung umumnya dimasukkan dua hingga tiga embrio. Jika lebih dari satu embrio berkembang dengan baik, maka dapat terjadi kehamilan kembar,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kehamilan kembar memiliki risiko medis lebih tinggi dibanding kehamilan tunggal. Risiko tersebut antara lain kelahiran prematur, tekanan darah tinggi saat hamil, hingga komplikasi persalinan.

Karena itu, setiap program kehamilan berbantu harus dilakukan melalui pertimbangan medis yang matang serta pengawasan dokter secara berkala.

“Kondisi kesehatan ibu tetap menjadi prioritas utama. Tidak semua pasien dianjurkan menjalani kehamilan ganda karena risikonya memang lebih besar,” ujar Yuda. (Fd)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama