Mataram, Kilas NTB – Di tengah semangat menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) memilih memaknai kemerdekaan dengan cara berbeda. Bukan hanya membangun infrastruktur kelistrikan, tetapi memperkuat ketangguhan masyarakat melalui pemberdayaan perempuan dalam menghadapi bencana.
Langkah itu diwujudkan melalui Program Perempuan Tangguh Bencana yang digagas Srikandi PLN UIW NTB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB dan BPBD Kabupaten Lombok Barat di Desa Gerimak Indah, Kecamatan Narmada.
Hasilnya tidak sekadar pelatihan. Desa yang sebelumnya rentan terhadap ancaman banjir itu kini resmi naik status menjadi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tingkat Pratama setelah menjalani serangkaian pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Ketua Srikandi PLN UIW NTB, Alfi Laili Fauziah, mengatakan perempuan tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai kelompok rentan saat bencana terjadi. Mereka justru memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama di tingkat keluarga maupun komunitas.
"Perempuan bukan hanya kelompok yang perlu mendapat perlindungan, tetapi juga mampu menjadi pemimpin, penggerak, dan edukator dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat," kata Alfi.
Menurut dia, keterlibatan perempuan harus dimulai sejak tahap mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat hingga proses pemulihan pascabencana. Pendekatan tersebut diyakini mampu memperkuat daya tahan masyarakat secara menyeluruh.
Program tersebut melibatkan 50 peserta yang terdiri atas anggota Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), perangkat desa, kelompok perempuan, penyandang disabilitas, lansia, hingga unsur masyarakat. Mereka mendapatkan pelatihan mitigasi bencana, simulasi evakuasi banjir, pertolongan pertama, hingga koordinasi penanganan keadaan darurat.
Selain membentuk TSBD yang melibatkan perempuan, kegiatan itu juga menghasilkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Banjir dan penyaluran perlengkapan tanggap darurat bagi desa.
Efektivitas pelatihan terlihat dari hasil evaluasi. Proporsi peserta yang memperoleh nilai pemahaman 90–100 meningkat dari 48 persen sebelum pelatihan menjadi 58 persen setelah kegiatan berlangsung.
Kepala Desa Gerimak Indah, Amal Suhardy, menyebut pendampingan dari Srikandi PLN bersama BPBD menjadi bekal penting bagi masyarakat yang pernah merasakan dampak banjir.
"Pendampingan ini memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pascabanjir yang pernah melanda wilayah kami," ujarnya.
Senada dengan itu, perwakilan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, H. Moh. Munir, S.Pd., menilai penguatan kapasitas Tim Siaga Bencana Desa menjadi fondasi utama dalam membangun desa yang mampu menghadapi risiko bencana.
"Penguatan kapasitas Tim Siaga Bencana Desa merupakan fondasi penting dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana," katanya.
General Manager PLN UIW NTB Yondri Zulfadli menegaskan ketangguhan masyarakat merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan pelayanan publik, termasuk keandalan sistem kelistrikan.
Menurut Yondri, lokasi Desa Gerimak Indah yang berada di sekitar Gardu Induk Mataram 150 kV membuat kesiapsiagaan masyarakat memiliki nilai strategis terhadap perlindungan aset ketenagalistrikan.
"PLN meyakini bahwa ketahanan bangsa dibangun dari masyarakat yang kuat. Melalui Srikandi PLN, kami mendorong perempuan menjadi penggerak dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan masing-masing," ujar Yondri.
Ia menambahkan kolaborasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat merupakan bagian dari komitmen PLN menghadirkan manfaat yang berkelanjutan sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik.
Bagi PLN, peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan siap menghadapi ancaman bencana yang kian meningkat. Program di Gerimak Indah menjadi contoh bahwa penguatan kapasitas perempuan dapat menjadi salah satu kunci memperkuat ketahanan desa sekaligus menjaga keberlangsungan layanan kelistrikan bagi masyarakat. (Red)
