![]() |
| Usaha kelompok perempuan di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan (Dok. PLN) |
Lombok Utara, Kilas NTB — Program Desa Berdaya Medana yang digagas PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) bersama Klub Baca Perempuan (KBP) mulai menunjukkan pola pemberdayaan yang tidak berhenti pada peningkatan pendapatan.
Setahun berjalan, usaha kelompok perempuan di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Menariknya, sebagian hasil usaha diputar kembali untuk kegiatan sosial masyarakat.
Data awal program menunjukkan persoalan ekonomi yang cukup besar. Dari 1.801 kepala keluarga di Desa Medana, sebanyak 671 KK atau 37,25 persen tergolong miskin atau tidak mampu.
Selain itu, 1.655 penduduk tercatat belum atau tidak bekerja. Dari jumlah tersebut, 838 di antaranya merupakan perempuan.
Kondisi itu menjadi pijakan pengembangan usaha berbasis potensi lokal melalui jamur tiram, Virgin Coconut Oil (VCO), Batik Sasak, dan sejumlah produk lainnya.
Ketua Klub Baca Perempuan Nursida Syam mengatakan, perkembangan usaha jamur menjadi salah satu hasil paling terlihat setelah program berjalan selama setahun.
"Rumah jamur yang kami kelola kini mampu menghasilkan panen hingga 900 kilogram per bulan dengan pendapatan sekitar Rp20 juta sampai Rp23 juta," kata Nursida.
Usaha VCO juga mulai menembus pasar lebih luas. Penjualannya mencapai sekitar 68 botol per bulan dengan pendapatan sekitar Rp1,9 juta. Produk tersebut dipasarkan di Lombok dan sejumlah wilayah Indonesia, bahkan menjangkau Singapura.
"Melalui intervensi pengembangan UMKM ini, dampaknya sangat signifikan bagi kurang lebih 58 orang anggota kami," ujar Nursida.
Yang membedakan program ini, hasil usaha tidak seluruhnya berhenti sebagai pendapatan anggota kelompok. KBP menerapkan pembagian hasil dengan 70 persen dikembalikan untuk menjaga keberlanjutan produksi dan 30 persen dialokasikan untuk kegiatan sosial.
Hasil penjualan jamur antara lain digunakan untuk menyediakan kebutuhan pokok melalui pasar gratis. Program tersebut menjangkau sekitar 50 hingga 70 orang setiap pekan, terutama orang tua tunggal, anak yatim piatu, dan penyandang disabilitas.
Saat kemarau, hasil usaha juga disisihkan untuk membeli dan menyalurkan air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan. Dana kelompok turut menopang kampanye gemar membaca serta distribusi bahan bacaan bagi anak-anak di sekolah dan perpustakaan komunitas.
General Manager PLN UIW NTB Yondri Zulfadli mengatakan, pola tersebut memang menjadi tujuan utama Desa Berdaya Medana. Dukungan PLN diarahkan bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membangun kegiatan ekonomi yang dapat terus berjalan dan menghasilkan manfaat berantai.
"Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dari perubahan di desanya sendiri," kata Yondri.
Menurut dia, pertumbuhan usaha harus berujung pada peningkatan pendapatan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat lain.
"Ketika usaha tumbuh, pendapatan masyarakat meningkat dan sebagian manfaatnya kembali untuk membantu masyarakat lainnya. Inilah semangat pemberdayaan yang ingin terus kami bangun bersama di Desa Medana," ujarnya.
Dampak program tersebut juga telah diukur secara independen melalui Social Return on Investment (SROI) dengan nilai 2,56. Artinya, setiap Rp1 investasi sosial dalam program tersebut menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi terukur sekitar Rp2,56.
Memasuki tahun kedua, PLN dan KBP akan memperkuat Sentra UMKM Medana, meningkatkan kapasitas produksi jamur tiram dan Batik Sasak, mengembangkan Tenun Bayan, melakukan diversifikasi serta sertifikasi produk, hingga memperluas promosi dan pemasaran.
Targetnya bukan sekadar menambah jenis usaha. Penguatan tersebut diarahkan agar kelompok masyarakat semakin mandiri mengelola bisnis sekaligus mempertahankan kegiatan sosial yang selama ini dibiayai dari hasil usaha. (Red)
