![]() |
| (Dok. Kilas NTB) |
Mataram, Kilas NTB — Label destinasi ramah Muslim tidak boleh berhenti pada jargon wisata halal, restoran halal, atau kemudahan menemukan masjid. Ada satu kebutuhan yang tak kalah krusial: jaminan layanan kesehatan ketika wisatawan membutuhkan pertolongan medis.
Pesan itu mengemuka saat tim penilai Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026 melakukan site visit ke RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Kamis (3/9/2026).
Rumah sakit tersebut menjadi salah satu lokasi yang ditinjau untuk melihat secara langsung kesiapan sektor kesehatan dalam menopang NTB sebagai destinasi pariwisata ramah Muslim.
Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. H. Tris Cahyoso, M.A.R.S., menegaskan bahwa keamanan kesehatan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kenyamanan wisatawan.
“Pariwisata bukan hanya soal destinasi. Wisatawan juga membutuhkan rasa aman, termasuk ketika membutuhkan pelayanan kesehatan,” kata Tris.
Tim penilai melihat sejumlah fasilitas unggulan RSUD H. Moh. Ruslan. Di antaranya PSC 119 Mataram Emergency Medical Service (MEMS), Hyperbaric Chamber, Poli Eksekutif, Unit Hemodialisis, masjid, dan Graha Mentaram.
Fasilitas tersebut menunjukkan bahwa layanan kesehatan di NTB mulai diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga mendukung wisatawan yang datang ke Lombok.
Tris mengatakan keberadaan fasilitas kesehatan yang cepat diakses menjadi faktor penting bagi wisatawan ketika memilih sebuah destinasi.
“Wisatawan tentu ingin berlibur dengan nyaman. Ketika ada kondisi yang membutuhkan pelayanan kesehatan, mereka harus mendapatkan akses yang cepat dan berkualitas,” ujarnya.
Menurut Tris, konsep ramah Muslim juga harus dipahami secara utuh. Wisatawan Muslim tidak hanya membutuhkan tempat ibadah dan makanan yang sesuai keyakinan, tetapi juga pelayanan publik yang mampu memberikan rasa aman selama berada di daerah tujuan wisata.
“Ketika wisatawan membutuhkan pelayanan kesehatan, mereka harus tahu bahwa fasilitas yang memadai tersedia,” katanya.
RSUD H. Moh. Ruslan sendiri telah mengembangkan konsep medical tourism dengan sejumlah layanan unggulan, termasuk PSC 119 MEMS, Hyperbaric Chamber, Pelayanan Jantung Terpadu, Hemodialisa Center, Poliklinik Eksekutif, kesehatan penerbangan dan evakuasi medis, serta Graha Mentaram.
Kesiapan tersebut membuat sektor kesehatan memiliki posisi strategis dalam memperkuat ekosistem pariwisata NTB. Sebab, destinasi yang menarik tetapi tidak ditopang layanan kesehatan memadai akan menyisakan celah dalam memberikan rasa aman kepada wisatawan.
“RSUD H. Moh. Ruslan siap mendukung NTB menjadi destinasi ramah Muslim. Pelayanan kesehatan harus mampu mengikuti perkembangan pariwisata dan kebutuhan wisatawan,” tegas Tris.
Penilaian IMTI 2026 menjadi momentum untuk menguji sejauh mana NTB telah menyiapkan seluruh rantai pelayanan wisatawan Muslim. Bukan hanya apa yang bisa dilihat dan dinikmati wisatawan, tetapi juga seberapa aman mereka ketika menghadapi situasi darurat.
Dengan demikian, upaya NTB memperkuat posisi sebagai destinasi ramah Muslim tidak cukup hanya mengandalkan sektor pariwisata. Rumah sakit, layanan kegawatdaruratan, fasilitas ibadah, hingga pelayanan publik harus bergerak dalam satu ekosistem.
RSUD H. Moh. Ruslan kini menempatkan layanan kesehatan sebagai bagian dari dukungan terhadap ekosistem tersebut. Bagi NTB, langkah itu penting untuk mengubah konsep wisata ramah Muslim dari sekadar label menjadi pengalaman wisata yang benar-benar memberikan rasa aman. (Fd)
