![]() |
| (Dok.Diskominfotik NTB) |
Mataram (Kilasntb.com) — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memperketat langkah pengamanan sentra produksi pangan di lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora menyusul prakiraan cuaca ekstrem dalam waktu dekat. Kawasan ini menjadi tulang punggung pasokan pangan NTB, sekaligus wilayah yang rentan terhadap banjir bandang dan longsor.
Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, mengatakan pemerintah menyiapkan lima langkah strategis berbasis peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah ini ditujukan untuk menekan risiko bencana sekaligus menjaga kesinambungan produksi pangan.
“Fokus kami adalah kesiapsiagaan. Informasi cuaca harus sampai cepat ke masyarakat, dan respons pemerintah tidak boleh terlambat,” kata Ahsanul di Mataram, Kamis, 22 Januari 2026.
Penguatan sistem peringatan dini menjadi langkah awal. Informasi prakiraan cuaca BMKG disebarkan secara masif melalui kanal resmi pemerintah hingga ke tingkat desa. Pemerintah daerah juga memetakan titik rawan bencana, mulai dari potensi banjir, longsor, hingga jalur vital yang berisiko terputus saat cuaca ekstrem.
Upaya mitigasi melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB. Pemetaan ini ditujukan agar penanganan darurat bisa dilakukan cepat dan terkoordinasi jika bencana terjadi.
Sektor pertanian mendapat perhatian khusus. Pemprov mendorong penyesuaian jadwal tanam, perbaikan sistem drainase lahan, serta pendampingan teknis bagi petani untuk meminimalkan kerusakan akibat hujan lebat dan erosi tanah.
“Kawasan Rinjani dan Tambora bukan hanya rentan bencana, tapi juga sentra pangan strategis. Produktivitas harus tetap dijaga,” ujar Ahsanul.
Pemerintah juga menyiagakan skema evakuasi dan logistik dasar. Dinas Sosial dan BPBD dipastikan siap bergerak jika terjadi bencana hidrometeorologi yang memaksa warga mengungsi.
Pemprov NTB mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan lereng perbukitan, untuk meningkatkan kewaspadaan. Riwayat bencana di wilayah tersebut menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar ancaman, melainkan risiko nyata.
“Kesiapsiagaan dan pencegahan adalah kunci. Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama,” kata Ahsanul. (Red)
