![]() |
| Kepala Instalasi Gizi RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram, Nurafiani, S.Gz., CHNMP (Dok. Kilas NTB) |
Mataram (Kilasntb.com) - Berbuka puasa dengan mi instan kerap menjadi pilihan praktis. Rasanya gurih, penyajiannya cepat, dan mudah didapat. Namun, di balik kepraktisan itu, ada catatan penting soal dampaknya bagi kesehatan.
Kepala Instalasi Gizi RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram, Nurafiani, S.Gz., CHNMP menegaskan, konsumsi mie instan saat berbuka pada dasarnya tidak dilarang, tetapi tidak boleh menjadi kebiasaan rutin.
“Mie instan berbahan dasar tepung yang merupakan sumber karbohidrat, sehingga tidak berbahaya bagi sebagian orang jika dikonsumsi sesekali. Namun kandungan gizinya didominasi karbohidrat dan kalori, rendah serat serta protein, sehingga membuat seseorang lebih cepat lapar,” ujarnya.
Menurut dia, risiko meningkat pada kelompok tertentu, terutama penderita penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Kandungan natrium (garam) yang tinggi dalam mi instan dapat memperberat kondisi tersebut dan meningkatkan risiko komplikasi, termasuk gangguan ginjal.
Risiko Metabolik dan Pola Makan Keliru
Nurafiani menjelaskan, konsumsi mie instan secara rutin dan berlebihan berpotensi memicu gangguan metabolik. Kandungan natrium, lemak jenuh, serta indeks glikemik yang relatif tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi, dislipidemia (kolesterol dan LDL tinggi), penyakit jantung, hingga diabetes.
Selain itu, rendahnya serat dan protein membuat rasa kenyang tidak bertahan lama. Kondisi ini mendorong seseorang menambah porsi atau mengombinasikan mi dengan nasi sekaligus.
“Kebiasaan mi plus nasi tanpa tambahan protein dan sayuran bisa meningkatkan asupan kalori berlebih dan berujung pada kenaikan berat badan hingga obesitas,” kata dia.
Asupan garam yang tinggi juga memicu rasa haus berlebihan saat puasa, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi.
Cara Lebih Sehat Menyantap Mie Instan
Agar tetap lebih aman dikonsumsi saat berbuka, Nurafiani menyarankan beberapa langkah sederhana. Pertama, tambahkan sumber protein hewani seperti telur atau ayam, serta protein nabati seperti tahu dan tempe.
Kedua, perbanyak sayuran seperti sawi, wortel, atau bayam untuk meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral. Ketiga, kurangi penggunaan bumbu instan guna menekan asupan natrium.
Ia juga menyarankan penggunaan kaldu alami dari daging atau ayam serta bumbu segar seperti bawang merah, bawang putih, dan merica sebagai penguat rasa. “Pilih juga varian mi dengan kadar serat lebih tinggi dan natrium lebih rendah,” ujarnya.
Pada akhirnya, kata Nurafiani, kunci utama tetap pada frekuensi dan keseimbangan. Mie instan boleh saja menjadi menu alternatif berbuka, tetapi bukan pilihan utama yang dikonsumsi berulang setiap hari.
“Yang terpenting adalah memastikan asupan tetap seimbang: ada karbohidrat, protein, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral. Itu yang membantu tubuh pulih optimal setelah seharian berpuasa,” kata dia. (Fd)
.jpg)