![]() |
| Rapat koordinasi pengendalian inflasi yang dipimpin Sekjen Tomsi Tohir dari Kementerian Dalam Negeri (Dok.Diskominfotik NTB) |
Mataram (Kilasntb.com) - Rapat koordinasi pengendalian inflasi yang dipimpin Sekjen Tomsi Tohir dari Kementerian Dalam Negeri menyoroti posisi inflasi Nusa Tenggara Barat yang masih berada di atas rata-rata nasional. Pemerintah daerah diminta mempercepat langkah konkret menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat pada awal 2026.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi nasional Januari 2026 sebesar 3,55 persen (year-on-year), sedangkan NTB mencapai 3,86 persen. Kota Bima mencatat inflasi tertinggi 4,82 persen, diikuti Kota Mataram 3,69 persen dan Kabupaten Sumbawa 3,77 persen.
Sementara Indeks Perkembangan Harga (IPH) menunjukkan Lombok Timur mengalami tekanan harga paling tinggi, dipicu komoditas cabai dan daging ayam ras.
Kepala Dinas Kominfotik NTB Ahsanul Khalik mengatakan posisi inflasi NTB yang sedikit di atas nasional menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Secara umum inflasi NTB masih terkendali, namun kita tidak boleh lengah. Daerah dengan tekanan harga tinggi harus segera ditangani,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota akan memperkuat operasi pasar, pengawasan distribusi, dan kerja sama pasokan antarwilayah untuk menekan lonjakan harga.
“Inflasi bukan sekadar angka statistik, tetapi menyangkut daya beli masyarakat. Sinergi semua pihak menjadi kunci menjaga stabilitas harga,” kata Aka. (Fd)
.jpg)