![]() |
| Workshop Hospital Disaster Plan (HDP) dan simulasi Table Top Exercise (TTX) pada 27–28 April 2026 (Dok. Istimewa) |
Mataram (Kilasntb.com) — RSUD H. Moh. Ruslan Mataram mulai membedah total sistem kesiapsiagaan bencananya. Tidak lagi sekadar mengandalkan dokumen di atas meja, rumah sakit milik Pemerintah Kota Mataram itu kini menguji langsung respons internal melalui Workshop Hospital Disaster Plan (HDP) dan simulasi Table Top Exercise (TTX) pada 27–28 April 2026.
Melalui kegiatan bertajuk “Drill-Ready Plan: Membedah Protokol Kesiagaan Bencana dari Dokumen ke Implementasi” itu menjadi langkah serius rumah sakit dalam memastikan sistem tanggap darurat benar-benar berjalan ketika situasi krisis terjadi.
Selama dua hari, sebanyak 96 peserta dari unsur direksi, kepala instalasi, kepala ruangan, komite, SPI, SMF hingga tenaga koordinator dilibatkan dalam simulasi penanganan bencana berbasis skenario.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp.FER., M.Kes., M.Sc menegaskan rumah sakit tidak boleh hanya siap dalam kondisi normal, tetapi juga harus tetap mampu beroperasi saat bencana melanda.
“Rumah sakit tidak hanya dituntut memberikan pelayanan terbaik dalam kondisi normal, tetapi juga harus mampu tetap beroperasi secara optimal saat menghadapi bencana. Kesiapan ini harus dibangun secara sistematis dan diuji melalui simulasi,” tegasnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan rumah sakit kini menjadi bagian penting dalam mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Karena itu, dokumen Hospital Disaster Plan tidak boleh berhenti sebagai syarat administrasi akreditasi semata.
“Dokumen HDP harus hidup. Seluruh unit harus memahami perannya masing-masing, mulai dari sistem komando, evakuasi pasien, mobilisasi SDM, logistik hingga farmasi. Saat kondisi chaos terjadi, respons tidak boleh terlambat,” ujarnya.
Workshop tersebut menghadirkan tim ahli dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM. Materi yang diberikan meliputi penguatan sistem penanggulangan bencana rumah sakit, penerapan Incident Command System (ICS), hingga analisis risiko berbasis Hazard Vulnerability Analysis (HVA) dan Hospital Safety Index (HSI).
Tim ahli yang terlibat di antaranya dr. Bella Donna yang memiliki pengalaman dalam sistem komando insiden kebencanaan dan respons kedaruratan kesehatan, Happy R Pangaribuan sebagai konsultan manajemen bencana kesehatan, serta dr. Muhammad Alif Seswandhana yang aktif mendampingi penyusunan rencana penanggulangan bencana dan simulasi operasional rumah sakit bersama Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM.
Pada hari pertama, peserta difokuskan pada penguatan konsep kesiapsiagaan bencana dan pemetaan risiko internal rumah sakit. Sedangkan hari kedua diisi simulasi Table Top Exercise untuk menguji koordinasi lintas unit dalam menghadapi skenario darurat secara real time.
Dalam simulasi tersebut, peserta diminta menjalankan peran masing-masing dalam struktur komando bencana, termasuk pengaturan alur evakuasi pasien, distribusi logistik, pengamanan area hingga penguatan layanan kegawatdaruratan.
Tak hanya internal rumah sakit, kegiatan ini juga melibatkan lintas sektor seperti Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Basarnas NTB dan BPBD Kota Mataram sebagai bagian dari penguatan sistem respons terpadu.
Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, PMK Nomor 75 Tahun 2019 tentang penanggulangan krisis kesehatan serta Kepmenkes Nomor 1128 Tahun 2022 terkait kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana.
Melalui kegiatan tersebut, RSUD H. Moh. Ruslan Mataram menargetkan lahirnya dokumen HDP yang benar-benar siap diuji di lapangan lengkap dengan peta peran, matriks mobilisasi dan sistem respons cepat yang terintegrasi.
“Rumah sakit yang siap bencana adalah rumah sakit yang tetap mampu menyelamatkan pasien di tengah situasi paling kritis,” tandasnya. (Fd)
