![]() |
| Lahan penanaman edamame di dalam Lapas Kelas IIA Lombok Barat (Dok. Lapas Lobar) |
Lombok Barat (Kilasntb.com) — Lahan seluas 0,9 hektare di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat tak lagi sekadar ruang kosong. Di atas tanah itu, benih-benih edamame ditanam, bukan hanya untuk dipanen, tetapi juga untuk menumbuhkan harapan dan kemandirian warga binaan.
Setelah menuai hasil dari budidaya cabai, pihak lapas kini menggeser fokus pada komoditas yang dinilai lebih adaptif terhadap pasar. Edamame dipilih sebagai langkah diversifikasi, sekaligus menjaga agar lahan tetap produktif sepanjang musim.
Program ini tidak berhenti pada aktivitas bercocok tanam. Warga binaan dilibatkan langsung dalam setiap tahapan, dari pengolahan lahan hingga perawatan tanaman. Pola ini menjadi bagian dari pembinaan berbasis keterampilan kerja, yang diarahkan untuk membekali mereka dengan kemampuan nyata saat kembali ke masyarakat.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Irfan Diansyah, menegaskan bahwa keputusan beralih ke edamame bukan tanpa pertimbangan.
“Setelah panen cabai, kami tidak ingin lahan menjadi tidak produktif. Oleh karena itu, kami beralih ke penanaman edamame yang memiliki masa tanam relatif singkat dan peluang pasar yang cukup baik,” ujar Irfan, Selasa (05/05).
Menurut dia, proses penanaman dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan aspek teknis budidaya. Pendampingan intensif diberikan agar warga binaan memahami seluruh siklus pertanian secara utuh, tidak hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai calon pelaku usaha.
Di sisi lain, Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, melihat program ini sebagai investasi jangka panjang dalam pembinaan sumber daya manusia.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses pembinaan. Kami ingin warga binaan memiliki keterampilan nyata yang bisa menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ungkapnya.
Diversifikasi komoditas, lanjutnya, membuka peluang lebih luas, termasuk potensi kerja sama dengan pihak eksternal dalam pengembangan dan pemasaran hasil pertanian. Langkah ini juga selaras dengan upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Di tengah keterbatasan ruang dan status, Lapas Lombok Barat menunjukkan bahwa pertanian bisa menjadi jalan rehabilitasi yang konkret. Edamame, dalam konteks ini, bukan sekadar tanaman, melainkan simbol perubahan, bahwa dari balik tembok tinggi, produktivitas dan harapan tetap bisa tumbuh. (Red)
