![]() |
| Ruang kelas SMAN 7 Mataram yang roboh (Dok. Istimewa) |
Mataram (Kilasntb.com) — Tim medis dari RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram bergerak cepat menangani korban robohnya dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram, Selasa (19/5/2026) siang. Penanganan darurat dilakukan untuk memastikan seluruh siswa terdampak mendapat pertolongan medis secepat mungkin sekaligus mencegah risiko korban lebih berat akibat kepanikan di lokasi kejadian.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 12.30 Wita ketika dua ruang kelas ambruk saat aktivitas sekolah masih berlangsung. Insiden itu memicu kepanikan di lingkungan sekolah setelah terdengar suara runtuhan keras dari arah bangunan kelas.
Begitu menerima laporan, tim gabungan dari RSUD H Moh Ruslan, PSC 119 Mataram Emergency Medical Service (MEMS), BPBD Kota Mataram, serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Mataram langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi dan penanganan medis awal.
Direktur RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram, dr Hj NK Eka Nurhayati, SpOG, Subsp FER, MKes, MSc mengatakan, tenaga medis diterjunkan lengkap bersama ambulans PSC 119 guna memastikan korban segera tertangani.
“Begitu laporan masuk, tim langsung bergerak ke lokasi. Fokus utama kami memastikan kondisi korban stabil, terutama siswa yang mengalami trauma dan syok akibat berada di dalam ruangan saat bangunan roboh,” ujar Eka di lokasi kejadian.
Dalam kejadian itu, empat siswa menjadi korban. Tiga siswa mengalami luka lecet ringan dan mendapatkan penanganan medis di tempat. Sementara satu siswa dirujuk ke RSUD H Moh Ruslan untuk observasi lanjutan karena mengalami syok.
Menurut Eka, kondisi psikologis korban menjadi perhatian penting selain penanganan luka fisik. Situasi runtuhan bangunan berpotensi memicu trauma, terutama bagi siswa yang berada di dalam kelas saat kejadian berlangsung.
“Korban yang dirujuk membutuhkan observasi lebih lanjut karena mengalami syok. Tim medis juga melakukan pemantauan kondisi mental korban agar tidak berkembang menjadi trauma berkepanjangan,” katanya.
Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina, mengatakan dirinya mendengar suara gemuruh keras ketika berada di ruang kerja menjelang salat zuhur. Saat keluar ruangan, ia melihat dua ruang kelas telah roboh.
“Saya langsung keluar setelah mendengar suara keras. Ternyata dua ruang kelas ambruk. Satu ruang masih digunakan untuk kegiatan belajar, sedangkan satu ruangan di sebelahnya memang sudah tidak dipakai karena sebelumnya dinilai berisiko,” ujar Rida.
Ia mengatakan, suasana sekolah sempat panik karena siswa dan guru berhamburan keluar ruangan untuk menyelamatkan diri. Namun, proses evakuasi berlangsung cepat setelah tim gabungan tiba di lokasi.
Selain menangani korban, petugas BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran juga melakukan pengamanan area runtuhan untuk mengantisipasi kemungkinan bangunan lain ikut terdampak. Pemeriksaan struktur bangunan dilakukan guna memastikan keamanan lingkungan sekolah.
Aktivitas belajar mengajar di area terdampak sementara dihentikan sampai hasil pemeriksaan teknis selesai dilakukan. Pemerintah Kota Mataram juga masih melakukan pendataan kerusakan serta evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan sekolah. (Hid)
