BP3MI NTB Soroti Risiko Anak PMI, Ketahanan Keluarga Jadi Benteng Utama

Pelatihan Pengasuhan Positif dan Ketahanan Keluarga di Desa Kalijaga Timur, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur yang digelar BP3MI NTB (Dok. Istimewa)

Lombok Timur, Kilas NTB — Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Nusa Tenggara Barat (BP3MI NTB) menyoroti lemahnya ketahanan keluarga sebagai salah satu persoalan yang kerap muncul di balik tingginya angka pekerja migran. Untuk memperkuat perlindungan keluarga pekerja migran, BP3MI NTB menggelar pelatihan Pengasuhan Positif dan Ketahanan Keluarga di Desa Kalijaga Timur, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, selama 29 Juni hingga 1 Juli 2026.

Kepala BP3MI NTB, Kadir, menegaskan perlindungan pekerja migran tidak berhenti pada pekerja yang berada di luar negeri. Menurut dia, keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak, harus menjadi bagian utama dari sistem pelindungan negara.

"Kegiatan ini merupakan upaya BP3MI Nusa Tenggara Barat untuk memperkuat peran keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak-anak yang ditinggalkan bekerja di luar negeri," kata Kadir saat membuka kegiatan, Senin, 29 Juni 2026.

Ia mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk membekali keluarga pekerja migran dengan pengetahuan mengenai pengasuhan positif, perlindungan anak, serta pentingnya pendidikan sebagai fondasi membangun keluarga yang tangguh.

"Peserta diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai pengasuhan positif, perlindungan anak, serta pentingnya pendidikan demi mewujudkan keluarga PMI yang harmonis, mampu mencetak generasi yang cerdas dan berkarakter, sekaligus mengurangi risiko pernikahan anak di Desa Kalijaga Timur," ujarnya.

Kadir menekankan bahwa negara harus hadir tidak hanya saat warga bekerja di luar negeri, tetapi juga memastikan keluarga yang ditinggalkan tetap terlindungi.

"Perlindungan Pekerja Migran Indonesia tidak hanya diberikan kepada pekerja migran, tetapi juga kepada keluarga yang ditinggalkan sebagai bagian dari perlindungan yang menyeluruh," katanya.

Kepala Desa Kalijaga Timur, Hiswanto, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut dia, pelatihan itu menjawab kebutuhan masyarakat desa yang banyak memiliki anggota keluarga bekerja sebagai pekerja migran.

"Kami berterima kasih atas perhatian dan kesempatan yang diberikan kepada warga Desa Kalijaga Timur. Kami berharap seluruh peserta memperoleh manfaat sehingga semakin memahami pengasuhan positif dan pentingnya ketahanan keluarga pekerja migran," ujar Hiswanto.

Sebanyak 17 peserta yang terdiri atas istri pekerja migran dan anggota keluarga mengikuti pelatihan ini. Mereka mendapatkan materi dari narasumber Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), termasuk pendampingan psikologi mengenai komunikasi efektif antara orang tua dan anak.

Melalui pelatihan tersebut, BP3MI NTB ingin menegaskan bahwa keberhasilan pekerja migran tidak hanya diukur dari besarnya remitansi yang dikirim ke kampung halaman, tetapi juga dari kemampuan keluarga menjaga tumbuh kembang anak dan mempertahankan ketahanan rumah tangga selama anggota keluarga bekerja di luar negeri. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama