Efisiensi Limbah Tembus Rp1 Miliar, RSUD H. Moh. Ruslan Mataram Sabet Juara III Nasional LAM-KPRS 2026

Tim RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram menerima penghargaan Juara 3 LAM KPRS Award 2026 melalui inovasi GEMPITA pada puncak acara di Grand Mercure Hotel Medan (Dok. Humas RSUD H. Moh. Ruslan Mataram)

Mataram, Kilas NTB — Di tengah meningkatnya biaya pengelolaan limbah rumah sakit, RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram justru membuktikan sebaliknya. Melalui inovasi GEMPITA (Gerakan Pengelolaan Sampah Terintegrasi Menuju Green Hospital), rumah sakit ini mampu mencatat efisiensi biaya pengelolaan limbah hingga sekitar Rp1,04 miliar dalam satu tahun. 

Terobosan tersebut mengantarkan RSUD H. Moh. Ruslan meraih Juara III Lomba Karya Ilmiah Inovasi LAM-KPRS Award 2026 tingkat nasional.
Prestasi itu diumumkan dalam rangkaian Praktikum Nasional dan Simposium Dinamis V 2026 yang berlangsung di Grand Mercure Hotel Medan, 26–27 Juni 2026. GEMPITA berhasil menembus tiga besar setelah bersaing dengan 10 finalis terbaik dari berbagai rumah sakit di Indonesia.

Di balik capaian tersebut berdiri sosok Fira Frismawati, ST, Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Berangkat dari tingginya biaya pengelolaan limbah medis serta belum optimalnya pemanfaatan limbah noninfeksius, ia menggagas GEMPITA sebagai sistem pengelolaan sampah terpadu yang mengubah limbah dari sekadar beban operasional menjadi sumber efisiensi, nilai ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.

Sebelum inovasi itu diterapkan, rumah sakit menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tingginya volume limbah B3 medis, limbah noninfeksius seperti plabot infus dan jerigen hemodialisa yang belum dimanfaatkan, hingga sampah organik yang sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir. 

Proses pemantauan dan evaluasi juga masih dilakukan secara manual sehingga kurang efektif.
Melalui GEMPITA, seluruh rantai pengelolaan limbah dirombak. Sampah dipilah sejak dari sumber, limbah noninfeksius dimanfaatkan kembali melalui kerja sama dengan pihak ketiga, sedangkan sampah organik diolah menggunakan Biopot menjadi kompos, pupuk cair, pupuk padat, dan media tanam produktif. 

Pengawasan kepatuhan pemilahan dilakukan melalui aplikasi SEHATI, sementara pelaporan dan monitoring lingkungan berjalan secara real-time melalui sistem digital SI WALET.

Perubahan itu menghasilkan dampak yang terukur. Limbah B3 medis berhasil ditekan hingga 25 persen, sampah organik yang dikirim ke TPA berkurang 40 persen, dan kepatuhan pemilahan limbah meningkat menjadi lebih dari 80 persen. Efisiensi biaya yang tercipta mencapai sekitar Rp1,04 miliar dalam satu tahun, sekaligus memperkuat penerapan konsep Green Hospital di lingkungan rumah sakit.

Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc, mengatakan penghargaan nasional tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang dibangun dari kebutuhan nyata mampu memberikan dampak besar, baik terhadap efisiensi anggaran maupun peningkatan kualitas pelayanan.

"Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran RSUD H. Moh. Ruslan dalam membangun budaya inovasi. GEMPITA membuktikan bahwa pengelolaan limbah yang tepat tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan efisiensi biaya hingga sekitar Rp1,04 miliar dalam setahun. Efisiensi tersebut kami manfaatkan untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat," ujar dr. Eka Nurhayati di Mataram, Sabtu (27/06/2026)

Menurutnya, transformasi rumah sakit modern tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan medis yang berkualitas. Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu rumah sakit.

"Kami ingin membangun rumah sakit yang sehat bagi pasien sekaligus sehat bagi lingkungan. GEMPITA menunjukkan bahwa limbah bukan sekadar masalah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dikelola secara inovatif untuk menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan," katanya.

Selain berdampak pada internal rumah sakit, GEMPITA juga melibatkan masyarakat melalui program Tukar Sampah Anorganik dengan Kompos. Dalam program tersebut, masyarakat dapat menukarkan sampah anorganik dengan kompos hasil pengolahan rumah sakit. Skema ini mendorong partisipasi publik dalam pengelolaan sampah sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular.

Keberhasilan inovasi tersebut kini menarik perhatian berbagai rumah sakit di Nusa Tenggara Barat maupun daerah lain yang mengajukan studi tiru dan kerja sama replikasi GEMPITA sebagai model pengelolaan limbah rumah sakit yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Di ajang LAM-KPRS Award 2026, Juara I diraih RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta melalui inovasi Transformasi Keperawatan RSCM: Efisiensi Biaya dan Pengelolaan SDM Melalui Kebijakan Sentralisasi. Sementara Juara II diraih RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar melalui inovasi Pallia Kids ID.

Bagi RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, posisi tiga besar nasional menjadi lebih dari sekadar trofi. Prestasi ini menegaskan bahwa inovasi yang lahir dari pengelolaan limbah mampu menghasilkan manfaat nyata, yakni menghemat anggaran lebih dari Rp1 miliar, meningkatkan kualitas lingkungan rumah sakit, dan memperkuat komitmen menuju Green Hospital yang bersih, inovatif, efisien, dan berkelanjutan. (Fd)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama