BPS: Ekonomi NTB Menguat, Pariwisata hingga Daya Beli Petani Meningkat

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat mengeluarkan rilis resmi (Dok. Diskominfotik NTB)

Mataram, Kilas NTB – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan perekonomian daerah masih bergerak pada jalur positif meski inflasi meningkat pada Juni 2026. Sejumlah indikator utama, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, transportasi hingga perdagangan luar negeri, menunjukkan tren penguatan.

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., mengatakan tekanan inflasi belum mengganggu aktivitas sektor-sektor produktif yang menjadi penopang ekonomi daerah.

"Secara umum, berbagai indikator menunjukkan perkembangan yang positif. Daya beli petani meningkat, sektor pariwisata terus bergerak, mobilitas masyarakat bertambah, dan aktivitas perdagangan luar negeri masih memberikan kontribusi yang baik terhadap perekonomian NTB," kata Wahyudin saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu, 1 Juli 2026.

BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year) NTB pada Juni 2026 mencapai 3,55 persen. Sementara inflasi bulanan sebesar 0,37 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,12 persen.

Menurut Wahyudin, kenaikan inflasi dipicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Turbo, yang berdampak pada tarif angkutan udara. Selain itu, kenaikan harga bawang merah, bawang putih, cumi-cumi, dan kubis turut mendorong inflasi.

Meski demikian, tekanan tersebut sebagian tertahan oleh penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan. Bertambahnya pasokan hasil panen juga membantu menjaga stabilitas harga pangan.

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB naik menjadi 130,95 atau meningkat 0,39 persen dibandingkan Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan pendapatan yang diterima petani masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga.

Wahyudin mengatakan kenaikan NTP didorong meningkatnya harga gabah, jagung, tomat, kacang tanah, dan bawang putih. Empat subsektor, yakni tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan, mencatat NTP di atas 100 yang mengindikasikan usaha tani masih memberikan keuntungan.

Sektor pariwisata juga memperlihatkan perbaikan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 41,07 persen atau naik 5,01 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Jumlah wisatawan nusantara tercatat mencapai 1.332.393 orang, meningkat 10,49 persen dibandingkan April dan naik 13,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Wahyudin, peningkatan kunjungan wisatawan didorong momentum libur panjang serta sejumlah agenda internasional yang digelar di NTB, seperti GT World Challenge Asia di Pertamina Mandalika International Circuit dan Rinjani 100 Ultra 2026 di Sembalun.

Peningkatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari mobilitas masyarakat. Jumlah penumpang angkutan laut pada Mei meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara penumpang penerbangan domestik yang tiba melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid bertambah 4,23 persen.

Di sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor NTB sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$1,27 miliar atau melonjak 1.045,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor didominasi komoditas tembaga, ikan dan udang, serta perhiasan dan permata dengan tujuan utama Tiongkok, Thailand, dan Amerika Serikat.

Meski nilai ekspor pada Mei secara tahunan menurun akibat berkurangnya ekspor tembaga hasil smelter dan mutiara, Wahyudin menilai kinerja ekspor secara kumulatif masih sangat kuat.

"Data yang kami sampaikan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak. Ke depan, stabilitas harga perlu terus dijaga agar penguatan sektor-sektor produktif ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat NTB," ujarnya.

Sementara itu, nilai impor NTB selama Januari–Mei 2026 tercatat US$36,48 juta atau turun 71,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terutama dipengaruhi berkurangnya impor barang modal dan bahan baku pada sejumlah kelompok komoditas. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama