Bekal Hadapi Kegawatdaruratan, RSUD H. Moh Ruslan Mataram Edukasi Ribuan Mahasiswa Yarsi Teknik BHD

RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melalui tim PSC 119 MEMS memberikan edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada ribuan mahasiswa baru Institut Kesehatan Yarsi Mataram (Dok. Istimewa)

Mataram, Kilas NTB  — RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melalui tim PSC 119 MEMS memberikan edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada ribuan mahasiswa baru Institut Kesehatan Yarsi Mataram.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Ibnu Sina INKES Yarsi Mataram, Sabtu (15/8/2026), itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Edukasi tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori. Para mahasiswa juga mendapatkan praktik langsung mengenai langkah-langkah pertolongan pertama terhadap korban yang mengalami henti jantung maupun henti napas.

Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., mengatakan kemampuan memberikan pertolongan awal penting dimiliki masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.

“Dalam kondisi kegawatdaruratan, pertolongan pada menit-menit pertama sangat menentukan. Karena itu, masyarakat, termasuk mahasiswa, perlu memiliki pengetahuan dasar untuk bertindak cepat dan tepat,” katanya

Menurut dia, kondisi darurat dapat terjadi kapan saja dan tidak selalu bertepatan dengan keberadaan tenaga kesehatan.

Karena itu, orang yang pertama kali berada di lokasi kejadian harus memiliki kemampuan dasar untuk memberikan pertolongan sesuai prosedur.

“Kita tidak bisa selalu menunggu tenaga kesehatan datang. Orang pertama yang berada di lokasi harus tahu apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan bagaimana memberikan pertolongan sesuai prosedur,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim PSC 119 MEMS RSUD H. Moh. Ruslan menjelaskan tahapan BHD secara sistematis.

Mahasiswa diperkenalkan dengan langkah memastikan keamanan lokasi, mengecek respons korban, meminta bantuan, menilai kondisi korban hingga melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau CPR.

Praktik langsung menjadi bagian penting dalam edukasi tersebut.

Mahasiswa diberikan kesempatan memahami secara konkret tindakan yang harus dilakukan ketika menemukan korban dalam kondisi kegawatdaruratan.

Ia menegaskan edukasi BHD tidak sebatas memberikan pengetahuan medis dasar, tetapi juga membangun keberanian masyarakat untuk mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami BHD sebagai materi kesehatan, tetapi mampu menggunakannya ketika menghadapi keadaan darurat di kampus, di rumah, maupun di tengah masyarakat,” katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya RSUD H. Moh. Ruslan memperluas fungsi edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Rumah sakit, kata dia, tidak hanya memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan ketika pasien sudah tiba di fasilitas kesehatan.

“Rumah sakit tidak hanya bertugas menangani pasien ketika sudah berada di ruang pelayanan. Kami juga memiliki tanggung jawab membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi kegawatdaruratan,” tegasnya.

Dia berharap mahasiswa yang mengikuti edukasi tersebut dapat menjadi bagian dari mata rantai pertolongan pertama di tengah masyarakat.

Terlebih, kondisi seperti henti jantung dan henti napas membutuhkan respons cepat sebelum bantuan medis profesional tiba.

“Harapannya, mahasiswa menjadi orang yang berani mengambil tindakan yang benar ketika melihat kegawatdaruratan. Bukan panik, bukan sekadar merekam, tetapi mampu memberikan pertolongan awal yang tepat sambil meminta bantuan medis,” pungkasnya. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama