![]() |
| (Dok. Kilas NTB) |
Mataram, Kilas NTB — Kota Mataram resmi menyandang predikat Kota Siaga Stroke, seiring konsistensi RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dalam memperkuat pelayanan dan penanganan pasien stroke.
Penguatan tersebut mendapat pengakuan melalui World Stroke Organization (WSO) Angels Award. RSUD H. Moh. Ruslan kembali meraih Diamond Status untuk keempat kalinya, sementara PSC RSUD H. Moh. Ruslan memperoleh Gold Status untuk kedua kalinya.
Penghargaan tersebut diserahkan pada Senin (31/8/2026) di Lapangan Sangkareang Kota Mataram, bertepatan dengan upacara peringatan Hari Jadi ke-33 Kota Mataram.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp F.E.R., M.Kes., M.Sc., mengatakan predikat Kota Siaga Stroke tidak bisa dilepaskan dari kesiapan sistem pelayanan yang dibangun secara berkesinambungan.
Menurut dia, rumah sakit merupakan salah satu bagian dari mata rantai penanganan stroke. Kesiapsiagaan harus dimulai dari kemampuan masyarakat mengenali gejala, kecepatan layanan kegawatdaruratan, hingga kesiapan rumah sakit memberikan penanganan sesuai standar.
“Penanganan stroke tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat, mulai dari masyarakat, layanan kegawatdaruratan, hingga rumah sakit. Semuanya memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan kepada pasien,” katanya.
Ia menjelaskan, stroke merupakan kondisi yang membutuhkan respons cepat. Waktu menjadi faktor penting karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko kecacatan pada pasien.
“Stroke berpacu dengan waktu. Semakin cepat pasien dikenali dan mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko kecacatan,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, predikat Kota Siaga Stroke harus dimaknai sebagai kesiapan seluruh sistem, bukan sekadar sebuah penghargaan bagi pemerintah daerah.
Masyarakat harus mengetahui tanda-tanda stroke dan segera mencari pertolongan. Pada saat yang sama, PSC harus mampu memberikan respons cepat dan rumah sakit harus siap menerima pasien dalam kondisi kegawatdaruratan.
“Masyarakat harus mampu mengenali tanda-tanda stroke, PSC harus cepat merespons, dan rumah sakit harus siap memberikan penanganan. Semua mata rantai ini harus berjalan,” katanya.
Dalam sistem tersebut, keberadaan PSC menjadi bagian penting untuk mempercepat perjalanan pasien menuju fasilitas kesehatan. Gold Status yang kembali diraih PSC RSUD H. Moh. Ruslan untuk kedua kalinya menunjukkan upaya memperkuat layanan kegawatdaruratan sebagai bagian dari sistem penanganan stroke.
“PSC tidak berdiri sendiri. Kecepatan respons di lapangan harus terhubung dengan kesiapan rumah sakit menerima dan menangani pasien,” ujarnya.
Di sisi lain, RSUD H. Moh. Ruslan menunjukkan konsistensi dalam menjaga standar pelayanan stroke melalui capaian Diamond Status untuk keempat kalinya.
Ia mengatakan, capaian tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab bagi rumah sakit untuk terus mempertahankan mutu pelayanan.
“Diamond Status untuk keempat kalinya menjadi motivasi bagi kami untuk terus mempertahankan kualitas pelayanan. Penghargaan ini bukan tujuan akhir, tetapi menjadi pengingat bahwa standar pelayanan harus terus dijaga,” katanya.
Penguatan kesiapsiagaan stroke juga membutuhkan edukasi hingga tingkat keluarga. Dalam penghargaan tersebut, Ketua TP PKK Kota Mataram memperoleh penghargaan Fast Heroes/Fast Kader PKK, yang menunjukkan pentingnya peran kader dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.
Menurutnya, keluarga dan masyarakat merupakan pihak yang berpotensi pertama kali menemukan seseorang mengalami gejala stroke. Karena itu, pengetahuan mengenai gejala dan tindakan yang harus dilakukan menjadi sangat penting.
“Edukasi harus sampai ke keluarga. Jangan menunggu gejala membaik sendiri ketika seseorang menunjukkan tanda stroke. Segera cari pertolongan,” tuturnya.
Bagi Eka, capaian RSUD H. Moh. Ruslan dan predikat Kota Siaga Stroke memiliki makna yang saling berkaitan. Rumah sakit tidak dapat bekerja sendiri, sementara status kota siaga harus dibuktikan dengan kesiapan nyata di lapangan.
“Yang paling penting adalah pasien mendapatkan pelayanan yang cepat, tepat dan sesuai standar. Penghargaan ini menjadi dorongan agar kami tidak berhenti melakukan perbaikan,” katanya.
Penyerahan penghargaan pada momentum Hari Jadi ke-33 Kota Mataram juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar RSUD H. Moh. Ruslan.
Ia menyebut capaian tersebut sebagai persembahan rumah sakit bagi Kota Mataram sekaligus dorongan untuk terus memperkuat pelayanan kesehatan.
“Penghargaan ini bukan hanya milik RSUD H. Moh. Ruslan. Ini merupakan hasil kolaborasi dan kerja bersama. Karena itu, penghargaan ini kami persembahkan untuk Kota Mataram dan seluruh masyarakat,” ungkapnya.
Dengan predikat Kota Siaga Stroke dan konsistensi RSUD H. Moh. Ruslan meraih Diamond Status hingga empat kali, Eka berharap sistem penanganan stroke di Mataram semakin kuat. (Red)
