![]() |
| (Dok. Diskominfotik NTB) |
Mataram, Kilas NTB — Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal memerintahkan pembentukan dan pemberangkatan Tim Solidaritas KR-BNN NTB ke wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur dalam waktu maksimal 24 jam setelah rapat koordinasi digelar.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat di Pendopo Gubernur NTB pada Sabtu pagi. Rapat dihadiri Sekretaris Daerah NTB, Kepala BPBD, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kesehatan, jajaran direktur rumah sakit umum lingkup Pemprov NTB, Kepala Dinas Kominfotik sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, serta Kepala Biro Kesra Setda NTB.
Dalam rapat itu, Iqbal meminta seluruh perangkat daerah menyiapkan tenaga medis, personel teknis, dapur umum, ambulans, kendaraan operasional, alat berat, serta bantuan logistik.
“Dalam waktu 24 jam, NTB harus sudah memiliki tim yang siap diberangkatkan menuju wilayah terdampak,” kata Iqbal.
Kepala Dinas Kominfotik sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB kemudian ditunjuk sebagai koordinator tim, didampingi Kepala Biro Kesra Setda NTB. Koordinator bertugas mengonsolidasikan personel, bantuan, kendaraan, dan kebutuhan operasional tim.
Persiapan dilakukan lintas organisasi perangkat daerah. Dinas Kesehatan mengonsolidasikan tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan, rumah sakit lingkup Pemprov NTB, RS Universitas Mataram, serta Dinas Kesehatan Kota Mataram.
Tenaga yang disiapkan meliputi dokter spesialis, dokter, perawat, bidan, apoteker, asisten apoteker, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya.
BPBD menyiapkan personel dan peralatan penanganan bencana. Dinas Sosial mengumpulkan bantuan, sedangkan Dinas Perhubungan mendukung mobilisasi. Dapur umum dari Kota dan Kabupaten Bima juga disiapkan untuk diberangkatkan.
Bantuan yang dikonsolidasikan antara lain beras, bahan makanan, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, tenda, terpal, selimut, matras, serta kebutuhan bayi dan perempuan.
Pada Ahad, 16 Agustus 2026, persiapan dinyatakan selesai. Tim Solidaritas KR-BNN NTB kemudian diberangkatkan dari halaman BPBD Provinsi NTB menuju Sape, Bima, sebelum melanjutkan perjalanan laut ke Labuan Bajo.
Iqbal mengatakan keputusan tersebut tidak terlepas dari pengalaman NTB menghadapi gempa Lombok pada 2018.
“NTB pernah berada dalam situasi yang sama,” ujarnya.
Menurut dia, pengalaman menerima bantuan saat bencana menjadi salah satu alasan NTB bergerak membantu masyarakat NTT.
“Tim NTB datang ke NTT sebagai saudara yang tidak ingin melihat saudaranya memikul beban musibah seorang diri,” kata Iqbal.
Setelah tiba di Labuan Bajo, tim NTB langsung berkoordinasi dengan sistem penanganan bencana di NTT. Tenaga kesehatan mulai bergerak ke lokasi pelayanan, sementara logistik dan dapur umum disiapkan untuk mendukung masyarakat terdampak.
Iqbal kemudian menyusul ke NTT. Ia bersama Gubernur Bali I Wayan Koster dan Pangdam IX/Udayana terbang menuju Labuan Bajo. Di Bandara Komodo, mereka disambut Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.
Ketiga gubernur kemudian bertemu di Posko Utama Penanganan Gempa di Manggarai Barat untuk membahas kondisi pengungsi, kerusakan dan kebutuhan penanganan.
Dari Manggarai Barat, Iqbal bersama Gubernur NTT melanjutkan perjalanan menuju Manggarai Timur menggunakan helikopter TNI Angkatan Darat.
Di Desa Satar Pudut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Iqbal menemui masyarakat terdampak dan mendengarkan kebutuhan mereka. Air bersih dan bahan makanan menjadi sejumlah kebutuhan yang disampaikan warga.
Iqbal juga mengunjungi titik pengungsian dan membagikan makanan kepada anak-anak.
Pada malam hari, Iqbal memilih menginap di Posko Utama Tim Solidaritas NTB di Dusun Dampe, Desa Satar Pudut. Sebelum beristirahat, ia mengikuti evaluasi bersama tim yang telah bekerja di lapangan.
Keesokan harinya, Iqbal melanjutkan perjalanan menuju Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur. Di sana ia bertemu Sekretaris Daerah, sejumlah kepala perangkat daerah dan Direktur RSUD Borong.
Dalam pertemuan tersebut, Iqbal menekankan pentingnya pendataan kerusakan rumah secara cepat dan akurat. Ia mendorong pemerintah daerah melibatkan perguruan tinggi dengan kompetensi teknik sipil dan konstruksi dalam melakukan asesmen kerusakan.
Setiap bangunan yang mengalami kerusakan, kata dia, perlu memiliki data, koordinat dan tingkat kerusakan yang jelas.
“Data yang baik akan membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih cepat. Keputusan yang tepat akan mempercepat rehabilitasi,” ujar Iqbal.
Ia juga mengingatkan agar penanganan bencana tidak diarahkan untuk mencari pihak yang disalahkan.
“Dalam bencana, jangan terlalu sibuk mencari siapa yang salah,” katanya.
Menurut Iqbal, masyarakat yang terdampak membutuhkan kerja bersama untuk memenuhi kebutuhan mereka dan mempercepat proses pemulihan.
Pengiriman Tim Solidaritas KR-BNN NTB ke NTT menjadi bagian dari kerja sama regional Bali, NTB dan NTT. Sebelumnya, Iqbal juga melakukan komunikasi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster untuk mengoordinasikan dukungan antardaerah.
Bagi NTB, pengalaman gempa Lombok 2018 menjadi dasar penting dalam memperkuat kesiapsiagaan. Pemerintah provinsi menilai mekanisme mobilisasi tenaga kesehatan, logistik, kendaraan, personel dan sumber daya lainnya perlu terus diperbarui agar dapat digerakkan secara cepat ketika bencana terjadi.
Dari keputusan yang diambil di Pendopo Gubernur NTB hingga keberangkatan tim ke NTT, pemerintah provinsi menempatkan kecepatan mobilisasi sebagai salah satu unsur utama dalam respons terhadap bencana. (Red)
