![]() |
| Proses penyuntikan Sel sperma ke sel telur (Dok. RSUD H. Moh Ruslan Mataram) |
Mataram, Kilas NTB — Program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menghadapi tantangan sejak mulai melayani pasien. Puluhan pasangan telah mengikuti program sejak awal 2026, namun belum satu pun mencatatkan keberhasilan kehamilan.
Direktur Utama RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., mengatakan kondisi pasien menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan program. Banyak pasien datang dengan kasus infertilitas yang tergolong kompleks.
“Rata-rata yang datang memang dengan kasus berat, seperti faktor usia, adanya penyakit penyerta, hingga faktor hormonal,” ujar Eka.
Menurut dia, keberhasilan IVF tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi maupun fasilitas rumah sakit. Kondisi medis pasien turut menjadi faktor penting dalam menentukan peluang keberhasilan program.
Eka mengatakan faktor usia dan gangguan hormonal memiliki tingkat kompleksitas berbeda dengan infertilitas akibat penyumbatan saluran telur atau tuba. Pada kasus penyumbatan tuba, kondisi hormonal pasien umumnya masih relatif baik sehingga penanganannya dapat berbeda.
“Belum berhasilnya program bayi tabung pada para pasien yang ditangani lebih disebabkan kondisi dan tingkat kesulitan kasus yang dialami oleh para pasien itu sendiri,” katanya.
Meski belum membuahkan kehamilan, RSUD H. Moh. Ruslan tidak menghentikan program tersebut. Rumah sakit justru melakukan evaluasi dan mengoptimalkan setiap tahapan pelayanan untuk meningkatkan kualitas penanganan pasien.
Program bayi tabung tersebut telah dicanangkan sejak 2025. Layanan Lombok IVF kemudian diluncurkan pada 8 Agustus 2025 bersamaan dengan peresmian Gedung Mother and Child RSUD H. Moh. Ruslan.
“Namun program bayi tabung sudah dicanangkan sejak tahun 2025, dan menjadi layanan pertama serta satu-satunya di NTB,” kata Eka.
Kehadiran layanan ini membuat pasangan dari NTB memiliki pilihan untuk menjalani program fertilitas berbantu tanpa harus pergi ke luar daerah. Akses yang lebih dekat juga diharapkan dapat menekan beban perjalanan, waktu, dan biaya yang harus ditanggung pasien.
Bagi rumah sakit, pengembangan IVF bukan hanya soal menambah jenis layanan. Program ini juga diarahkan menjadi layanan unggulan kesehatan reproduksi sekaligus membuka peluang pengembangan layanan rujukan dan medical tourism di Mataram.
“Jika program ini berhasil, maka layanan bayi tabung di RSUD Kota Mataram bisa menjadi alternatif bagi pasangan suami istri yang belum punya keturunan. Selain itu dapat menjadi sumber baru pendapatan daerah,” ujar Eka.
Namun, rumah sakit menghadapi pekerjaan yang tidak ringan. Setiap pasien memiliki kondisi medis berbeda sehingga tidak ada satu pendekatan yang bisa diterapkan secara seragam. Pemeriksaan, terapi, hingga tindakan IVF harus disesuaikan dengan hasil evaluasi masing-masing pasien.
“Tidak semua kasus memiliki tingkat kesulitan yang sama. Karena itu pasien harus mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing,” katanya.
Belum adanya keberhasilan kehamilan hingga kini menjadi tantangan bagi layanan IVF yang masih relatif baru di RSUD H. Moh. Ruslan. Rumah sakit memilih menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki proses pelayanan, bukan alasan untuk menghentikan program.
RSUD H. Moh. Ruslan menargetkan Lombok IVF berkembang tidak hanya untuk melayani pasien dari Kota Mataram dan NTB, tetapi juga menjadi salah satu pilihan layanan fertilitas bagi pasien dari luar daerah.
Pengembangan sumber daya manusia, fasilitas, serta evaluasi terhadap setiap tahapan program menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan mutu layanan. Tantangannya kini bukan sekadar menghadirkan teknologi bayi tabung, tetapi membuktikan layanan tersebut mampu memberikan hasil bagi pasien dengan beragam tingkat kompleksitas kasus. (HA)
