![]() |
| Workshop Nasional Matrix RSUD H. Moh Ruslan Mataram (Dok. Istimewa) |
Mataram, Kilas NTB — Rumah sakit dituntut tidak sekadar siap mengobati korban bencana, tetapi juga mampu menjaga layanan tetap berjalan ketika bencana menghantam. Celah kesiapsiagaan itulah yang dibidik RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melalui Workshop Nasional MATRIX (Mataram Disaster Response and Evacuation Drill), 14–15 September 2026.
RSUD H. Moh. Ruslan menjadi rumah sakit pertama di Nusa Tenggara Barat yang menyelenggarakan workshop nasional tersebut. Kegiatan ini mempertemukan tenaga kesehatan dan berbagai unsur penanggulangan bencana untuk menguji kemampuan menghadapi kondisi darurat secara terintegrasi.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK. Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc., mengatakan kesiapsiagaan bencana tidak cukup dibangun melalui dokumen dan prosedur tertulis.
“Penyusunan dokumen Hospital Disaster Plan saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan uji coba taktis dan peningkatan kapasitas personel secara berkala,” kata Eka saat membuka Workshop Nasional MATRIX.
Menurutnya, bencana dapat terjadi kapan saja dan berpotensi mengganggu bahkan menghentikan operasional rumah sakit. Karena itu, setiap lini harus memahami peran masing-masing ketika sistem pelayanan berada dalam kondisi krisis.
“Workshop ini dirancang untuk melatih kesiapan taktis, koordinasi komando, serta kemampuan teknis operasional dalam meminimalkan risiko dan menyelamatkan jiwa saat kondisi krisis,” ujarnya.
![]() |
| Workshop Nasional Matrix diikuti oleh 60 peserra dari berbagai latar belakang (Dok. Istimewa) |
Sebanyak 60 peserta mengikuti workshop tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi kesehatan dan perwakilan fasilitas pelayanan kesehatan di NTB. Materi tidak berhenti pada teori, tetapi mencakup implementasi Hospital Incident Command System (HICS), triage bencana, evakuasi pasien, perlindungan diri dan dekontaminasi, hingga pemadaman api awal.
Narasumber berasal dari internal dan eksternal. Dari internal RSUD H. Moh. Ruslan hadir dokter spesialis jantung, dokter spesialis emergency, serta tim PSC 119 MEMS. Sementara dari eksternal dilibatkan BPBD Kota Mataram, Basarnas, PUPR, STIKES Mataram, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Mataram, serta perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi NTB.
Ujian kesiapan juga diarahkan pada skenario gempa. Peserta mendapat materi dan praktik penilaian kelayakan bangunan rumah sakit pascagempa, termasuk mengenali kerusakan struktural dan nonstruktural sebelum fasilitas dinyatakan aman untuk digunakan kembali.
Kemampuan rumah sakit menghadapi lonjakan pasien juga diuji melalui materi surge capacity dan surge capability. Peserta dilatih mengatur kapasitas tempat tidur, redistribusi tenaga kesehatan, logistik darurat, serta area pelayanan sementara ketika jumlah korban melonjak.
Simulasi kemudian dibawa ke lapangan. Peserta mengikuti praktik penanganan dan evakuasi bencana di lingkungan rumah sakit serta kawasan RTH Pagutan. Pola ini ditujukan agar tenaga kesehatan tidak hanya memahami prosedur di ruang kelas, tetapi mampu mengambil keputusan ketika berhadapan dengan situasi darurat.
Eka meminta seluruh peserta membawa hasil workshop ke fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing. Menurut dia, tujuan akhir MATRIX bukan sekadar terlaksananya kegiatan, melainkan terbentuknya sistem respons yang lebih cepat, terkoordinasi, dan teruji.
“Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, serta mampu mengimplementasikan hasil workshop ini dalam praktik sehari-hari di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing,” katanya.
Eka menegaskan komitmen tersebut melalui prinsip yang menjadi pesan utama workshop: “Siap sebelum bencana, tanggap saat bencana, dan pulih dengan lebih baik setelah bencana.”
Melalui MATRIX, RSUD H. Moh. Ruslan tidak hanya memperkuat kapasitas internal rumah sakit. Pelibatan lintas sektor sekaligus menjadi upaya membangun jejaring respons bencana yang lebih solid di NTB, sehingga rumah sakit tidak berdiri sendiri ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan pasien, petugas, dan keberlangsungan pelayanan. (Fd)

