Kota Mataram Jadi Daerah Siaga Stroke Kedua di Indonesia


Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana dan Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc. saat menerima penghargaan (Dok. Istimewa)

Mataram, Kilas NTB - Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditetapkan sebagai daerah siaga stroke kedua di Indonesia. Mataram juga menjadi daerah pertama di luar Pulau Jawa yang mendapat pengakuan tersebut.

Pengakuan itu diberikan dalam rangkaian penganugerahan Daerah Siaga Stroke 2026 di Aula Pendopo Wali Kota Mataram, Rabu (16/9/2026). Penghargaan tersebut diberikan melalui ANGELS Initiative sebagai bagian dari penguatan sistem penanganan stroke di daerah.

Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan predikat tersebut lahir dari sistem penanganan stroke yang dibangun bersama. RSUD H. Moh Ruslan Mataram menjadibsalah satu pengferak utama dalam memperkuat layanan, yang kemudian terhubung dengan tenaga medis, PSC 119, kader hingga masyarakat. 

“Ini bukan sekadar berbicara soal penanganan stroke, tetapi kita sedang membangun sistem. Rumah sakit dilibatkan, tenaga medis dilibatkan, kemudian masyarakat dan kader juga dilibatkan,” kata Mohan.

Menurut Mohan, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena penanganan stroke tidak dimulai ketika pasien tiba di rumah sakit. Kecepatan mengenali gejala dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam memutus risiko kecacatan dan kematian.

“Ini relevan dengan apa yang kita lakukan selama ini. Bagaimana kita mempercepat penanganan kesehatan, khususnya stroke, sehingga risiko kecacatan dan kematian dapat ditekan,” ujarnya.

Mohan menyebut capaian tersebut juga menunjukkan keberanian RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melakukan inovasi dalam pelayanan kesehatan.

“Apa yang diperoleh rumah sakit hari ini menunjukkan ada cara pandang, ada semangat, kreativitas, kemudian keberanian mengambil risiko untuk melakukan terobosan. Yang paling penting, terobosan itu bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Dalam penganugerahan tersebut, RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram meraih Diamond Status. Sementara PSC 119 Mataram Emergency Medical Service memperoleh Gold Status dan program Fast Heroes meraih Diamond Status.

Capaian tersebut menjadi bagian dari dasar pengakuan Mataram sebagai daerah siaga stroke. Sistem penanganannya dibangun dari hulu hingga hilir, mulai dari edukasi masyarakat, deteksi gejala, respons ambulans, rujukan hingga penanganan di rumah sakit.

Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc. mengatakan penghargaan untuk Kota Mataram merupakan capaian kumulatif.

“Penghargaan yang diberikan untuk Kota Mataram ini adalah kumulatif.” katanya.

RSUD H. Moh. Ruslan menjadi salah satu penggerak utama sistem tersebut. Penguatan layanan stroke telah dilakukan sejak 2023, termasuk pelatihan penanganan dari fase pre-hospital hingga post-acute.

Di sisi masyarakat, program Fast Heroes dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan warga dan kader dalam mengenali tanda awal stroke. Sedangkan PSC 119 diperkuat agar mampu memberikan respons kegawatdaruratan dan membawa pasien ke fasilitas kesehatan yang tepat.

Penguatan sistem ini penting karena keterlambatan masih menjadi salah satu persoalan utama penanganan stroke. Pasien dapat kehilangan kesempatan mendapatkan terapi optimal ketika terlambat dibawa ke rumah sakit.

Mohan pun meminta edukasi dan pelatihan kader terus diperluas.

“Harus diperluas lagi supaya masyarakat semakin tanggap, kader-kader semakin sigap, dan respons terhadap kondisi kegawatdaruratan bisa dilakukan lebih cepat,” tegasnya.

Dia menilai kolaborasi pemerintah daerah, rumah sakit, tenaga medis, PSC 119 dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun pelayanan kesehatan di Kota Mataram.

“Ini satu kolaborasi yang sangat indah. Kita memiliki satu visi. Rumah sakit ditopang oleh seluruh jajaran tenaga medis yang responsif, memiliki dedikasi dan komitmen. Pemerintah daerah memberikan ruang yang terbuka agar rumah sakit bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.

Dengan predikat sebagai daerah siaga stroke kedua di Indonesia, Mataram kini tidak hanya dituntut memiliki rumah sakit yang siap menangani stroke.

Sistem tersebut harus mampu bekerja sejak masyarakat mengenali gejala hingga pasien mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat. (Fd)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama