![]() |
| Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc menerima langsung penghargaan dari Angles Initiative (Dok. Istimewa) |
Mataram, Kilas NTB — RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, membangun ekosistem penanganan stroke yang terintegrasi, mulai dari edukasi masyarakat, layanan kegawatdaruratan pra-rumah sakit, penanganan medis, hingga rehabilitasi.
Upaya ini dilakukan karena penanganan stroke berpacu dengan waktu. Semakin cepat pasien mendapat pertolongan, semakin besar peluang untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., mengatakan pasien stroke harus segera ditangani dalam masa golden time, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul.
“Kecepatan itu sangat penting dalam penanganan stroke karena ada istilah golden time, yaitu kurang dari 4,5 jam kasus stroke harus sudah ditangani,” ujarnya.
Untuk memperpendek waktu penanganan, rumah sakit memperkuat layanan pra-rumah sakit melalui PSC 119 Mataram Emergency Medical Service (MEMS). Layanan ini menghubungkan masyarakat yang membutuhkan pertolongan dengan tim medis sebelum pasien tiba di rumah sakit.
RSUD H. Moh. Ruslan juga mengembangkan emergency button yang dapat digunakan melalui telepon seluler untuk meminta bantuan dalam kondisi kegawatdaruratan. Waktu respons tim tercatat kurang dari 10 menit, dihitung sejak panggilan diterima hingga tim kembali ke rumah sakit.
“PSC kita merupakan PSC yang paling aktif di Indonesia dan didukung penggunaan emergency button. Inilah yang membuat kami sangat dibutuhkan masyarakat,” kata Eka.
Sistem tersebut diperkuat dengan edukasi masyarakat melalui pelibatan 2.432 kader Kota Mataram. Para kader dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal stroke, memahami faktor penyebab, dan mendorong keluarga segera membawa pasien ke rumah sakit.
“Kita tidak hanya memperkuat pelayanan di dalam rumah sakit, tetapi juga secara aktif mengajak kader untuk mengenali tanda-tanda awal serangan stroke dan memahami penyebabnya, kemudian merespons cepat dan segera ke rumah sakit,” ujar Eka.
Edukasi juga dilakukan melalui program Fast Heroes agar masyarakat dapat mengenali gejala stroke lebih cepat dan segera meminta pertolongan. Setelah pasien tiba di rumah sakit, penanganan dilanjutkan oleh tim stroke hingga tahap rehabilitasi.
Menurut Eka, rangkaian layanan tersebut telah memberikan dampak nyata. Sejak 2023 hingga saat ini, sekitar 234 pasien disebut berhasil diselamatkan dari kecacatan dan kematian akibat stroke.
“Sejak 2023 sampai saat ini ada sekitar 234 pasien yang sudah kita selamatkan dari kecacatan dan kematian akibat stroke,” ujarnya.
Capaian itu menjadi hasil kerja tim stroke RSUD H. Moh. Ruslan yang didukung layanan kegawatdaruratan, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat. Rumah sakit juga mendapat dukungan Angels Initiative dalam pengembangan kapasitas tenaga kesehatan di NTB, termasuk melalui program pembelajaran bagi dokter RSUD H. Moh. Ruslan ke Swiss.
Penguatan ekosistem tersebut mendapat pengakuan melalui Diamond Status dalam penghargaan Daerah Siaga Stroke 2026 yang diberikan Angels Initiative, Rabu (16/9/2026), di Aula Pendopo Wali Kota Mataram.
Dalam penghargaan itu, RSUD H. Moh. Ruslan menerima Diamond Status, PSC 119 Mataram Emergency Medical Service (MEMS) meraih Gold Status, dan program Fast Heroes memperoleh Diamond Status. Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Mataram menerima penghargaan sebagai bagian dari pengakuan Kota Siaga Stroke.
RSUD H. Moh. Ruslan juga meraih Diamond Status dari Angels Initiative dan World Stroke Organization pada 2024 dan kembali pada 2026. Capaian tersebut menjadi penghargaan ketiga berturut-turut bagi rumah sakit itu.
Namun, Eka menegaskan bahwa penghargaan bukan tujuan akhir pengembangan layanan stroke.
“Saya berusaha mencari apa yang harus saya kerjakan berikutnya. Pasti ada penghargaan-penghargaan berikutnya. Inilah yang saya lihat sebagai peluang,” katanya.
Bagi Eka, ukuran keberhasilan utama bukan jumlah penghargaan, melainkan banyaknya pasien yang terhindar dari kecacatan dan kematian. Karena itu, seluruh mata rantai penanganan stroke di Mataram terus diarahkan agar berjalan cepat, sejak masyarakat mengenali gejala, meminta bantuan, mendapat respons kegawatdaruratan, menjalani penanganan medis, hingga memperoleh rehabilitasi. (Fd)
