NTB Mulai Putus Ketergantungan Rujukan, Bypass Otak Kini Bisa Dilakukan di RSUD Provinsi

RSUD Provinsi NTB
Untuk pertama kalinya, RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat melakukan operasi bypass otak STA-MCA terhadap dua pasien pada 11–12 September 2026 (Dok. Diskominfotik NTB)

Mataram, Kilas NTB — RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai memutus ketergantungan pasien terhadap rumah sakit di luar daerah untuk layanan bedah saraf kompleks. Untuk pertama kalinya, rumah sakit milik Pemprov NTB itu melakukan operasi bypass otak STA-MCA terhadap dua pasien pada 11–12 September 2026.

Layanan tersebut tergolong kompleks dan belum tersedia luas di Indonesia. Direktur Pelayanan Klinis Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, dr. Obrin Parulian, mengatakan baru 11 dari 38 provinsi yang telah memberikan layanan bypass STA-MCA.

“Dari 38 provinsi, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA ini,” kata Obrin di Mataram, Jumat, 11 September 2026. Menurut dia, kemampuan RSUD NTB yang terus berkembang dapat membuat rumah sakit tersebut setara dengan rumah sakit pengampu jika nantinya mampu menjalankan layanan secara mandiri.

Operasi pertama dilakukan terhadap pasien berusia 12 tahun yang mengalami gejala sejak sekitar usia satu tahun, berupa kelemahan pada satu sisi tubuh serta gangguan bicara dan kognitif. Hasil pemeriksaan DSA menunjukkan penyempitan pembuluh darah otak dan pasien didiagnosis mengalami Moyamoya. Bypass dilakukan untuk membangun jalur aliran darah baru dan mengurangi risiko stroke berulang.

Pasien kedua berusia 42 tahun dengan riwayat stroke iskemik, gangguan bicara, dan kelemahan anggota gerak. Pemeriksaan menunjukkan gangguan suplai darah ke otak. Operasi bypass dipilih untuk memperbaiki aliran darah sekaligus menekan risiko kejadian berulang.

Kemampuan itu tidak muncul secara instan. RSUD Provinsi NTB membangunnya melalui pendidikan dokter, fellowship, kesiapan fasilitas dan peralatan, serta pendampingan rumah sakit pengampu. Proctorship melibatkan RS PON Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta dan RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Bali, mulai dari persiapan tindakan, pengambilan keputusan klinis hingga pemantauan pascaoperasi.

Kementerian Kesehatan mendorong kemampuan seperti ini tumbuh di daerah agar layanan berkompleksitas tinggi tidak terus terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra. Dukungan diarahkan pada penguatan sumber daya manusia sekaligus fasilitas, termasuk mikroskop dan perangkat bedah mikro.

Sekretaris Daerah NTB Abul Chair mengatakan pendampingan tersebut harus menghasilkan kemampuan yang menetap di rumah sakit daerah, bukan sekadar keberhasilan satu operasi. “Bukan hanya ikannya, tetapi juga cara menangkap ikan dan bagaimana mengolahnya,” ujarnya saat menyaksikan rangkaian proctorship di RSUD Provinsi NTB.

RSUD Provinsi NTB kini memiliki lima dokter spesialis bedah saraf. Kompetensi mereka terus dikembangkan, termasuk melalui fellowship di Jepang. Target berikutnya adalah memastikan layanan bypass STA-MCA dapat dilakukan secara mandiri. Jika kemampuan itu konsisten, RSUD NTB bahkan berpeluang menjadi rumah sakit pengampu bagi daerah lain.

Bagi pasien NTB, capaian ini mengubah persoalan rujukan menjadi lebih dekat. Kementerian Kesehatan menyebut pasien tidak lagi harus menyeberang ke Bali atau pergi ke Makassar untuk mendapatkan layanan tertentu. Tantangan RSUD NTB kini bukan sekadar membuktikan bisa melakukan operasi, tetapi memastikan layanan kompleks tersebut berkelanjutan, aman, dan benar-benar mandiri. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama