RSUD H. Moh. Ruslan Jadikan Medical Tourism Penopang Wisata Ramah Muslim NTB

(Dok. Istimewa)

Mataram, Kilas NTB — Pariwisata ramah Muslim tidak cukup hanya dengan destinasi indah dan fasilitas ibadah. Wisatawan juga membutuhkan kepastian ketika sakit atau mengalami kondisi darurat. Celah itu yang coba diisi RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melalui penguatan layanan medical tourism.

Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., mengatakan layanan kesehatan merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata. Rumah sakit, kata dia, harus mampu memberi rasa aman bagi wisatawan yang datang ke NTB.

"Langkah itu menjadi bagian penting dalam menunjang sektor pariwisata, khususnya program pariwisata ramah Muslim di Nusa Tenggara Barat," kata Eka di Mataram.

RSUD H. Moh. Ruslan menjadi satu-satunya rumah sakit daerah di NTB yang telah mengantongi sertifikasi medical tourism dari Kementerian Kesehatan. Sertifikasi itu menjadi modal rumah sakit untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat sekaligus wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara.

Menurut Eka, medical tourism tidak berhenti pada urusan pasien mendapatkan pengobatan. Kehadiran pasien dari luar daerah menciptakan rantai ekonomi baru. Mereka membutuhkan hotel, transportasi, makanan, hingga berbagai kebutuhan selama menjalani perawatan.

"Para pendatang tersebut memanfaatkan berbagai fasilitas pendukung di Mataram, seperti akomodasi hotel dan kebutuhan harian lainnya, yang secara tidak langsung mendatangkan devisa serta menggerakkan perekonomian daerah," ujarnya.

Karena itu, kesehatan menjadi salah satu indikator yang ikut menentukan daya saing destinasi.
Wisatawan tidak hanya mencari tempat yang menarik, tetapi juga kepastian bahwa layanan medis tersedia ketika mereka membutuhkannya.

Posisi tersebut kembali diuji melalui kunjungan tim penilai Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026 ke RSUD H. Moh. Ruslan pada Kamis, 3 September 2026. 

Penilaian itu merupakan bagian dari rangkaian yang digelar Kementerian Pariwisata bersama Bank Indonesia melalui dewan juri IMTI.

Eka mengatakan penilaian tersebut mencakup kesiapan fasilitas kesehatan sebagai bagian dari pendukung pariwisata ramah Muslim. "Penilaian itu bertujuan untuk melihat kesiapan sarana, prasarana, serta layanan pendukung dalam penerapan konsep pariwisata ramah Muslim di rumah sakit," katanya.

Bagi NTB, penguatan layanan kesehatan berarti memperluas makna pariwisata ramah Muslim. Konsep itu tidak hanya menyangkut makanan halal atau tempat ibadah, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan dan kenyamanan wisatawan selama berada di daerah tujuan wisata.

"Kehadiran fasilitas kesehatan yang berkualitas, mudah diakses, serta didukung dengan sarana ibadah yang memadai menjadi salah satu aspek penting dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan," ujar Eka.

RSUD H. Moh. Ruslan pun menyatakan akan terus meningkatkan mutu pelayanan dan fasilitas pendukung. Rumah sakit menempatkan kebutuhan pasien sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi NTB sebagai destinasi wisata yang memiliki layanan kesehatan memadai.

"Untuk itu, kami terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat," kata Eka.

Dengan demikian, ambisi NTB menjadi destinasi wisata ramah Muslim tidak hanya diuji di kawasan wisata. Rumah sakit juga menjadi salah satu titik penting yang menentukan apakah wisatawan merasa benar-benar aman selama berada di NTB. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama