![]() |
| Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin menyampaikan data dalam Berita Resmi Statistik di Aula Tambora, Kantor BPS NTB (Dok. Diskominfotik NTB) |
Mataram, KilasNTB – Nilai ekspor Nusa Tenggara Barat mencapai US$382,77 juta sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut meningkat 119,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada saat bersamaan, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB naik 1,57 persen menjadi 130,66 pada Oktober 2026. Namun, produksi pangan masih menghadapi potensi gangguan El Niño.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin, menyampaikan data tersebut dalam Berita Resmi Statistik di Aula Tambora, Kantor BPS NTB, Senin (2/11/2026).
“Nilai ekspor NTB selama Januari-September 2026 mencapai US$382,77 juta atau tumbuh 119,36 persen secara tahunan,” kata Wahyudin.
Pada September 2026, ekspor NTB didominasi komoditas perhiasan dan permata dengan nilai US$154,59 juta. Kontribusinya mencapai 40,39 persen dari total ekspor. Komoditas lainnya meliputi buah-buahan, ikan dan udang, serta kendaraan dan bagiannya.
Swiss menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan kontribusi 26,68 persen. Uni Emirat Arab berada di posisi kedua sebesar 18,84 persen, disusul Thailand 12,67 persen, Hong Kong 11,72 persen, dan Tiongkok 11,12 persen.
Sementara itu, nilai impor NTB selama Januari-September 2026 tercatat US$8,90 juta. Komoditas impor utama terdiri atas karet dan barang dari karet, mesin dan peralatan mekanis, serta sejumlah produk industri lainnya.
Di sektor pertanian, NTP NTB pada Oktober 2026 mencapai 130,66 atau meningkat 1,57 persen dibandingkan September. Kenaikan tersebut dipengaruhi indeks harga yang diterima petani sebesar 1,45 persen. Adapun indeks harga yang dibayar petani turun 0,12 persen.
“Peningkatan NTP menunjukkan adanya perbaikan posisi tukar petani. Pada Oktober, indeks harga yang diterima petani meningkat, sementara indeks harga yang dibayar mengalami penurunan,” ujarnya.
Seluruh subsektor pertanian mencatat NTP di atas 100. Subsektor hortikultura mencatat indeks tertinggi sebesar 182,32, disusul tanaman pangan 129,29, peternakan 117,50, perkebunan rakyat 112,63, dan perikanan 112,20. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) mencapai 134,41 atau meningkat 1,28 persen.
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 326,67 ribu hektare. Angka tersebut meningkat 1,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) diproyeksikan mencapai 1,73 juta ton atau tumbuh 1,08 persen. Jumlah tersebut bertambah sekitar 18,52 ribu ton dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Sementara produksi beras untuk konsumsi penduduk diperkirakan mencapai 983,69 ribu ton.
Produksi jagung juga diperkirakan meningkat. Luas panen mencapai 180,76 ribu hektare atau naik 4,43 persen. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diproyeksikan sebesar 1,25 juta ton, meningkat 6,26 persen atau bertambah sekitar 73,61 ribu ton.
BPS mengingatkan potensi dampak fenomena El Niño terhadap produksi pertanian pada periode berikutnya.
“Perkembangan produksi padi dan jagung pada periode berikutnya perlu terus dicermati, terutama dengan adanya potensi dampak El Niño terhadap kondisi pertanian,” kata Wahyudin.
Pada perkembangan harga, NTB mengalami deflasi 0,56 persen secara bulanan pada Oktober 2026. Namun, inflasi tahunan masih tercatat 3,24 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,63. Secara tahun kalender, inflasi mencapai 2,15 persen.
Deflasi Oktober dipengaruhi penurunan harga ikan layang, ikan tongkol, cumi-cumi, udang basah, daging ayam ras, bawang merah, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan. Sebaliknya, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain cabai merah, kubis, tomat, air minum kemasan, dan sepeda motor.
Berbeda dengan perdagangan dan pertanian, indikator pariwisata NTB pada September 2026 mengalami penurunan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat 44,86 persen, turun 6,93 poin dibandingkan Agustus. TPK hotel nonbintang mencapai 31,17 persen atau turun 0,87 poin.
Jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid tercatat 7.657 orang. Angka tersebut turun 18,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1.294.580 perjalanan atau turun 4,53 persen secara bulanan. Namun, dibandingkan September 2025, jumlah perjalanan wisatawan domestik masih meningkat 1,99 persen.
Data BPS juga menunjukkan penguatan ekspor dan NTP berlangsung bersamaan dengan peningkatan proyeksi produksi padi dan jagung. Di sisi lain, inflasi tahunan masih mencapai 3,24 persen dan sejumlah indikator pariwisata mengalami penurunan.
Perkembangan tersebut tercatat dalam Berita Resmi Statistik BPS Provinsi NTB yang dirilis pada 2 November 2026. (Red)
