![]() |
| Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (Dok. Istimewa) |
Mataram (Kilasntb.com) — Setelah bertahun-tahun dibayangi tekanan keuangan, RSUP NTB akhirnya keluar dari jerat utang kontraktual senilai Rp91,45 miliar. Pemerintah Provinsi NTB kini membuka babak baru pembenahan rumah sakit dengan target utama: memulihkan kualitas pelayanan dan kepercayaan publik.
Pelunasan seluruh kewajiban tahun anggaran 2025 itu menjadi salah satu langkah fiskal terbesar yang dilakukan RSUP NTB dalam beberapa tahun terakhir. Dari total utang Rp91,44 miliar, sebesar Rp44,76 miliar diselesaikan pada periode direksi sebelumnya. Sisanya Rp46,67 miliar dibereskan direksi baru hanya dalam waktu satu bulan.
Keberhasilan menuntaskan utang itu langsung diikuti rapat khusus yang dipimpin Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama jajaran manajemen RSUP NTB di Pendopo Gubernur.
Pemprov NTB menegaskan, pelunasan utang tidak boleh berhenti sebagai keberhasilan administratif semata. Fokus berikutnya adalah reformasi pelayanan rumah sakit yang selama ini kerap menjadi sorotan masyarakat.
“Ukuran rumah sakit bukan besar gedungnya, tapi pelayanan yang dirasakan masyarakat,” kata Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik, Minggu, 17 Mei 2026.
Menurut Aka, sapaan Ahsanul Khalik, Gubernur meminta RSUP NTB bergerak cepat melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari tata kelola hingga kualitas layanan pasien.
“Setelah utang selesai, RSUP NTB harus bergerak lebih cepat melakukan pembenahan,” ujarnya.
Selama ini, beban utang disebut ikut mempengaruhi stabilitas operasional rumah sakit, termasuk pengadaan alat kesehatan, arus operasional layanan, hingga hubungan kerja sama dengan mitra penyedia layanan kesehatan.
Kini, setelah tekanan fiskal mulai mereda, RSUP NTB memiliki ruang lebih luas untuk memperkuat sistem layanan dan menata ulang manajemen internal.
Direktur RSUP NTB drg. H. Asrul Sani mengatakan pihaknya mulai menjalankan sejumlah langkah penguatan fiskal agar persoalan serupa tidak kembali terulang. Strategi itu meliputi pengendalian belanja, penataan arus kas, percepatan klaim BPJS, hingga optimalisasi aset rumah sakit.
Manajemen juga mulai menyiapkan sumber pendapatan baru melalui pengembangan revenue center dan evaluasi kerja sama yang dinilai belum produktif.
“Kami ingin membangun rumah sakit yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan,” kata Asrul.
Pemprov NTB menilai pelunasan utang ini menjadi fondasi penting bagi transformasi RSUP NTB sebagai rumah sakit rujukan utama di daerah. Namun tantangan berikutnya dinilai jauh lebih besar: memastikan masyarakat benar-benar merasakan perubahan layanan.
“Pelunasan utang bukan akhir perjuangan, tetapi awal kebangkitan RSUP NTB,” kata Aka. (Red)
