![]() |
| (Sumber. RSUD H. Moh Ruslan Mataram) |
Mataram, Kilas NTB — RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram kehilangan salah satu fasilitas diagnostik paling penting setelah mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI) mengalami kerusakan total dan tidak lagi dapat diperbaiki. Kondisi yang telah berlangsung selama beberapa bulan itu memaksa rumah sakit rujukan milik Pemerintah Kota Mataram tersebut menghentikan layanan pemeriksaan MRI dan merujuk pasien ke luar daerah, termasuk ke Bali.
Kerusakan alat terjadi karena faktor usia pakai yang sudah melewati batas optimal. Di tengah tingginya kebutuhan layanan kesehatan, ketiadaan MRI menjadi pukulan bagi RSUD H. Moh. Ruslan yang selama ini menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama masyarakat di Kota Mataram dan sekitarnya.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. Ni Ketut Eka Nurhayati, Sp.OG., K.F.E.R., M.Kes., M.Sc., mengatakan alat MRI sudah tidak dapat diselamatkan karena kerusakannya cukup berat.
"Sudah hampir beberapa bulan rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi karena faktor usia alat yang sudah tua. Dampaknya, setiap ada pasien yang membutuhkan tindakan pemeriksaan MRI, terpaksa harus kami rujuk ke luar daerah," kata Eka Nurhayati.
Menurut Eka, kondisi itu semakin menyulitkan karena alat MRI di RSUD Provinsi NTB yang selama ini menjadi lokasi rujukan juga mengalami kerusakan. Akibatnya, pasien yang membutuhkan pemeriksaan penunjang untuk kasus saraf, stroke, tumor, kelainan tulang belakang, maupun penyakit lainnya harus mencari layanan hingga ke luar Pulau Lombok.
Bagi rumah sakit, keberadaan MRI bukan sekadar alat penunjang, melainkan instrumen vital dalam penegakan diagnosis. Tanpa MRI, proses penanganan sejumlah penyakit berisiko menjadi lebih lambat karena pasien harus menjalani rujukan tambahan.
Namun, pengadaan alat baru bukan perkara mudah. Harga satu unit MRI diperkirakan mencapai sekitar Rp35 miliar, bergantung pada spesifikasi. Nilai investasi yang besar membuat RSUD H. Moh. Ruslan belum mampu melakukan pengadaan secara mandiri.
"Siapa mau pengadaan harganya mahal. Dana dari mana kalau Rp35 miliar kira-kira segitu karena tergantung spek. Yang jelas mahal dan tidak mungkin terjangkau," ujar Eka.
Keterbatasan anggaran itu mendorong Pemerintah Kota Mataram mengajukan bantuan pengadaan MRI kepada Kementerian Kesehatan RI. Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menegaskan keberadaan MRI merupakan kebutuhan mendesak bagi RSUD H. Moh. Ruslan sebagai rumah sakit rujukan.
"Ya memang saya sudah dilaporkan soal itu. MRI kita rusak, padahal MRI itu kan sangat vital, mendeteksi semua kebutuhan pasien," kata Mohan.
Ia mengatakan manajemen rumah sakit telah menyampaikan proposal pengadaan alat kepada Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah berharap usulan tersebut dapat segera ditindaklanjuti.
"Rumah sakit itu harus ada MRI. Itu vital sekali. Yang saya tahu Bu Direktur sudah mengajukan proposal ke Kemenkes untuk bisa dibantu pengadaan itu. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya," ujarnya.
Hingga kini, RSUD H. Moh. Ruslan masih menunggu respons dari Kementerian Kesehatan. Selama alat pengganti belum tersedia, layanan MRI di rumah sakit tersebut belum dapat dibuka kembali dan pasien masih harus menjalani rujukan ke luar daerah untuk mendapatkan pemeriksaan yang dibutuhkan.
Ketiadaan MRI bukan hanya persoalan alat kesehatan yang rusak, melainkan menyangkut akses dan kecepatan pelayanan medis bagi ribuan pasien yang bergantung pada rumah sakit milik Pemerintah Kota Mataram tersebut. (Red)
