![]() |
| (Dok. Kilas NTB) |
Mataram, Ķilas NTB — RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram mengirim empat tenaga kesehatan untuk menjalankan misi kemanusiaan selama 12 hari di wilayah terdampak gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur.
Empat personel itu terdiri atas satu dokter umum, dua perawat, dan satu sopir. Mereka disiapkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan sekaligus merespons kebutuhan medis masyarakat di tengah situasi pascabencana.
Durasi penugasan selama 12 hari menjadi bagian penting dari strategi respons RSUD H. Moh. Ruslan. Tim tidak hanya hadir pada fase awal bencana, tetapi disiapkan untuk memberikan dukungan kesehatan secara berkelanjutan selama masa penugasan.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., mengatakan empat personel tersebut telah dipilih dan dipersiapkan untuk menghadapi kondisi darurat di lapangan.
“Tim yang kami kirim sebanyak 4 orang terdiri dari satu dokter umum, dua perawat, dan satu sopir,” ujar Eka.
Selain tenaga kesehatan, RSUD H. Moh. Ruslan turut mengirim satu unit ambulans VIP. Kendaraan tersebut disiapkan untuk menunjang mobilitas tim serta mendukung penanganan dan evakuasi pasien yang membutuhkan pertolongan medis.
Pengiriman empat personel selama 12 hari ini merupakan tindak lanjut instruksi Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana. Pemerintah Kota Mataram mengambil bagian dalam respons kemanusiaan terhadap bencana yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Seperti bencana yang menimpa provinsi lain, Pemkot Mataram pasti mengambil bagian dan berperan serta. Kita upayakan bantuan materi maupun nonmateri atas dasar rasa kemanusiaan dan persaudaraan,” kata Mohan.
Bagi RSUD H. Moh. Ruslan, keterlibatan empat tenaga kesehatan selama hampir dua pekan menunjukkan bahwa respons rumah sakit terhadap bencana tidak berhenti pada pengiriman bantuan awal.
Tim tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari layanan kesehatan di lapangan selama 12 hari, dengan dukungan ambulans sebagai fasilitas mobilisasi dan penanganan pasien.
Misi itu sekaligus mempertegas peran rumah sakit daerah dalam respons kegawatdaruratan lintas wilayah, ketika kebutuhan layanan kesehatan meningkat akibat bencana. (Red)
