![]() |
| Kunjungan Kapolda Nusa Tenggara Barat Inspektur Jenderal Polisi Kalingga Rendra Raharja ke Lapas Lombok Barat (Dok. Lapas Lombok Barat) |
Lombok Barat, Kilas NTB — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lombok Barat mendapat sorotan positif dari Kapolda Nusa Tenggara Barat Inspektur Jenderal Polisi Kalingga Rendra Raharja. Ia menilai pola pembinaan warga binaan di lapas tersebut layak menjadi model bagi lapas lain di NTB.
Penilaian itu disampaikan Kalingga setelah meninjau langsung program pembinaan, blok hunian, serta berdialog dengan warga binaan pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kalingga melihat pembinaan di Lapas Lombok Barat tidak hanya berfokus pada pengamanan. Warga binaan juga diberi ruang untuk mengembangkan keterampilan dan menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Salah satu yang menarik perhatian Kapolda adalah jaring berbahan sabut kelapa hasil karya warga binaan. Produk tersebut telah dipasarkan ke sejumlah daerah dan digunakan sebagai penahan tebing.
“Saya melihat pembinaan di Lapas Lombok Barat berjalan sangat baik. Suasananya humanis sehingga warga binaan dapat menikmati proses pembinaan dan menyalurkan bakatnya,” kata Kalingga.
Menurut Kalingga, keterampilan yang menghasilkan produk bernilai jual menjadi bagian penting dari proses mempersiapkan warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.
“Hasil karya mereka juga memiliki nilai ekonomi. Menurut saya, Lapas Lombok Barat layak menjadi pilot project bagi lapas-lapas lain di NTB,” ujarnya.
Kunjungan tersebut turut didampingi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan NTB Ketut Akbar Herry Achjar. Kalingga mengatakan sinergi Polri dan jajaran pemasyarakatan akan diperkuat, terutama dalam menjaga keamanan sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial.
“Kami akan terus berkoordinasi agar warga binaan yang telah bebas dapat beradaptasi dengan baik di tengah masyarakat dan tidak mengulangi tindak pidana,” kata dia.
Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat M. Fadli mengatakan apresiasi Kapolda menjadi dorongan bagi jajarannya untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pembinaan.
“Apresiasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memperkuat pembinaan yang tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan sebagai bekal untuk kembali ke masyarakat,” ujar Fadli.
Fadli menegaskan pembinaan diarahkan agar warga binaan tidak hanya berubah selama berada di dalam lapas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk hidup mandiri setelah bebas.
“Kami ingin setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan taat hukum,” katanya.
Bagi Lapas Lombok Barat, penilaian Kapolda tersebut menjadi legitimasi sekaligus pekerjaan lanjutan: memastikan pembinaan yang humanis dan berbasis keterampilan benar-benar mampu menekan risiko warga binaan kembali melakukan tindak pidana setelah bebas. (Red)
