Hipertensi Tak Lagi Penyakit Orang Tua, Usia Muda Kini Mulai Terancam

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi RSUD H. Moh. Ruslan Mataram, Hj. Amanukarti Resi Oetomo, Sp.PD-KGH, FINASIM, yang akrab disapa dr. Nunuk (Dok. Aini/Radar Bangsa)

Kilas NTB
, Meningkatnya kasus hipertensi pada usia muda menjadi alarm baru bagi dunia kesehatan. Jika dulu tekanan darah tinggi identik dengan kelompok lanjut usia, kini pola hidup modern membuat penyakit tersebut semakin banyak menyerang usia produktif.

Konsumsi makanan tinggi garam dan gula, kurang olahraga, stres berkepanjangan, hingga kebiasaan begadang menjadi kombinasi yang memicu lonjakan kasus hipertensi di kalangan anak muda.

Fenomena itu menjadi perhatian serius Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi RSUD H. Moh. Ruslan Mataram, Hj. Amanukarti Resi Oetomo, Sp.PD-KGH, FINASIM, yang akrab disapa dr. Nunuk.

Dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia 2026, dr. Nunuk mengingatkan masyarakat bahwa hipertensi merupakan penyakit berbahaya yang sering datang tanpa tanda yang jelas. Karena minim gejala, penyakit ini dikenal sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam.

“Lebih dari 90 persen penderita hipertensi tidak merasakan gejala apa pun. Hanya sebagian kecil yang mengalami sakit kepala, pusing, pandangan kabur, atau sesak napas. Karena itu masyarakat jangan menunggu sakit baru memeriksakan diri,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang merasa sehat padahal tekanan darah mereka sudah berada pada level berbahaya. Kondisi itu membuat hipertensi sering terlambat diketahui hingga akhirnya memicu komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, penyakit jantung, bahkan kematian.

Anak Muda Kini Mulai Rentan

dr. Nunuk menilai perubahan pola hidup masyarakat menjadi faktor utama meningkatnya kasus hipertensi pada usia muda. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dengan kandungan garam, gula, dan kalori tinggi disebut semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, aktivitas fisik masyarakat juga semakin berkurang akibat pola kerja dan gaya hidup sedentari. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya tingkat stres dan kurangnya waktu istirahat.

“Sekarang banyak pada populasi usia muda yang mengonsumsi makanan tinggi garam, kalori, dan gula. Ditambah kurang konsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas fisik atau olahraga, stres yang tinggi, serta kebiasaan begadang atau kurang tidur,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pola hidup tersebut juga berkontribusi terhadap meningkatnya angka obesitas yang menjadi salah satu faktor risiko utama hipertensi. Selain itu, penderita diabetes melitus memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi.

“Orang dengan diabetes, obesitas, pola makan tinggi karbohidrat, kurang serat, serta minim konsumsi buah dan sayur lebih rentan terkena hipertensi. Karena itu pola hidup sehat harus mulai diterapkan sejak dini,” tambahnya.

Hipertensi Masih Sulit Dikendalikan

Selain tingginya angka kasus, persoalan lain yang menjadi perhatian ialah rendahnya tingkat pengendalian hipertensi, baik secara global maupun nasional.

dr. Nunuk menyebut hanya sekitar 21 persen penderita hipertensi di dunia yang tekanan darahnya berhasil terkontrol dengan baik. Sementara di Indonesia, angka hipertensi terkontrol disebut masih lebih rendah.

“Masih banyak pasien yang sudah didiagnosis hipertensi tetapi tekanan darahnya belum terkontrol dengan baik. Ini menjadi tantangan besar bagi tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin sebagai langkah deteksi dini. Menurutnya, pengendalian hipertensi tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat dalam menjalani pola hidup sehat dan disiplin menjalani pengobatan.

“Masyarakat harus memahami bagaimana menjalani hidup sehat, memilih makanan yang baik, rutin memantau tekanan darah di rumah, serta disiplin menjalani pengobatan jika sudah didiagnosis hipertensi,” jelasnya.

Mulai dari Kebiasaan Sederhana

Menurut dr. Nunuk, pencegahan hipertensi sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya membatasi konsumsi garam.

“Tubuh memang membutuhkan garam, tetapi jumlahnya harus dibatasi. Idealnya tidak lebih dari satu sendok teh per hari. Hindari juga makanan tinggi lemak dan kalori berlebihan,” ujarnya.

Selain menjaga pola makan, masyarakat juga diimbau menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan yang dapat memperburuk kondisi pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur dan kesehatan mental. Menurutnya, stres berkepanjangan dan kurang tidur menjadi faktor risiko hipertensi yang sering diabaikan.

“Kurang tidur dan stres yang tidak terkontrol menjadi faktor risiko hipertensi yang sering diabaikan masyarakat. Karena itu penting menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental,” katanya.

Aktivitas fisik rutin juga menjadi bagian penting dalam menjaga tekanan darah tetap stabil. Masyarakat disarankan berolahraga minimal lima kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30 menit hingga satu jam sesuai kondisi tubuh.

“Olahraga tidak harus berat. Yang penting dilakukan secara rutin dan sesuai kapasitas tubuh. Aktivitas fisik yang teratur sangat membantu menjaga tekanan darah tetap stabil,” tuturnya.

Melalui momentum Hari Hipertensi Sedunia 2026, dr. Nunuk berharap masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang harus dimulai sejak usia muda.

“Jangan menunggu sakit baru peduli kesehatan. Mulailah dari hal sederhana seperti menjaga pola makan, rutin olahraga, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, dan rutin memeriksa tekanan darah. Dengan begitu risiko hipertensi dan komplikasinya bisa ditekan,” pungkasnya. (Fd)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama