Datangi NTT, Gubernur Iqbal: Kami Tahu Rasanya Hancur karena Gempa

Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal di tengah-tengah korbam gempa NTT (Diskominfotik NTB)

Manggarai Barat, Kilas NTB — Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026, meninggalkan kerusakan besar. Sebanyak 7.321 rumah rusak dan 71 orang meninggal. Angka itu menjadi gambaran awal skala bencana yang kini dihadapi NTT.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal datang langsung ke NTT pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia membawa satu pesan: NTB tidak datang sebagai tamu.

“Kami pernah merasakan hal yang sama dan sangat memahami bagaimana rasanya menghadapi bencana seperti ini. Kami hadir untuk menyampaikan bahwa saudara-saudara kami di NTT tidak sendiri,” kata Iqbal.

Iqbal dan Gubernur Bali I Wayan Koster tiba di Manggarai Barat untuk melihat langsung penanganan pascagempa. Keduanya menuju Posko Utama Penanganan Gempa M7,7 di Pusdalops BPBD Kabupaten Manggarai Barat.

Di posko tersebut, mereka bertemu Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Laporan mengenai jumlah kerusakan rumah, kondisi masyarakat terdampak, serta kebutuhan pengungsi dipaparkan secara langsung.

Data kebencanaan yang ditampilkan BPBD menunjukkan 7.321 rumah terdampak, dengan tingkat kerusakan berat, sedang, hingga ringan. Bagi Iqbal, angka tersebut bukan sekadar statistik.

NTB pernah mengalami fase serupa ketika rangkaian gempa besar mengguncang Lombok pada 2018. Saat itu, kerusakan fisik segera diikuti persoalan panjang: pengungsian, pembangunan rumah, pemulihan ekonomi, hingga trauma masyarakat.

“Setelah gempa berhenti, pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai,” ujar Iqbal.

Karena itu, dukungan NTB untuk NTT tidak berhenti pada pengiriman bantuan. Setelah menjadi salah satu daerah pertama yang mengirim bantuan, Iqbal memilih datang langsung untuk melihat kebutuhan di lapangan.

Dari Manggarai Barat, Iqbal bersama Melki bergerak menuju Kabupaten Manggarai Timur. Mereka meninjau wilayah terdampak menggunakan helikopter TNI AD jenis Bell 412 ER HA-5185.

Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja lintas daerah. Bali dan NTB ikut bergerak ketika NTT menghadapi kerusakan dan kehilangan akibat gempa.

Iqbal menyebut hubungan ketiga provinsi dalam Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KR-BNN) tidak boleh berhenti pada agenda pembangunan, ekonomi, atau pemerintahan.

“Kami ini bertiga saudara kembar. Kami akan memberikan apa yang kami bisa untuk membantu saudara-saudara kami di NTT,” kata Iqbal.

Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan hal senada. Menurut dia, solidaritas tersebut merupakan konsekuensi dari hubungan antardaerah yang telah dibangun.

“Kita ini bersaudara. Kalau saudara kita mengalami musibah, tentu kita ikut merasakan dan hadir untuk memberikan dukungan,” ujar Koster.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi kedatangan dua gubernur tersebut. Menurut dia, kehadiran Bali dan NTB memberikan tambahan kekuatan bagi NTT dalam menghadapi dampak gempa.

Melki bahkan menyebut Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menilai hubungan ketiga provinsi tersebut sebagai contoh kerja sama regional yang konkret.

“Pak Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan kepada saya bahwa tiga provinsi ini adalah contoh kerja sama yang paling nyata dan betul-betul solid,” kata Melki.

Di tengah angka 7.321 rumah rusak dan 71 korban meninggal, kunjungan NTB dan Bali menunjukkan satu hal: penanganan bencana tidak berhenti ketika getaran tanah mereda. Bagi daerah yang pernah mengalami kehancuran serupa, solidaritas diuji bukan lewat pernyataan, tetapi lewat kehadiran dan tindakan. (Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama